Dilema Mahasiswa Ekonomi Semester 5 yang Tidak Tahu TA

by - 11:07:00 PM

TA? Titip Absen? Yakali gatau.

Rasa dilema ini dirasakan oleh mahasiswa semester 5 yang ketika ditanya mengenai TA, atau kepanjangannya adalah tax amnesty. Jadi, sore itu ketika mahasiswa tersebut berkumpul untuk rapat. Peserta rapat terdiri dari berbagai jurusan, tak hanya anak ekonomi saja, namun juga ada anak – anak ibu lainnya. Suasana rapat yang awalnya hanya ketawa ketiwi, mendadak menjadi serius ketika seseorang mengangkat sebuah tema yang memang menjadi polemik saat ini. Dan seketika di suasana yang serius itu, pertanyaan yang menjadi sebuah dilema diantara kami tertuju kepada anak ekonomi tersebut.

Iya, kepada saya.

Mampus, kata yang tercetus dalam hati saat itu. Menyesal, karena selama ini saya tak pernah baca berita, tak pernah peduli dengan isu – isu terkini. Isu yang padahal berkaitan erat dengan apa yang telah dipelajari. Sesaat ada rasa ingin pause segala kegiatan pada waktu itu, dan mulai membuka handphone untuk searching, atau mungkin call a friend seperti dalam kuis who wants to be millioner. Tapi apa daya, hidup yang dijalani saat itu bukanlah mimpi, itu nyata coy. Semua orang menunggu jawaban yang keluar dari mulut anak ekonomi ini.

Memang sih bukan jawaban yang memuaskan. Saya telah mencoba menjawab semampunya. Namun dari semua kejadian diatas, saya mulai berpikir. Nah, berpikirnya aja baru mulai sekarang lol. Sebenarnya, apa sih yang telah saya pelajarin selama ini? Selama jadi anak ekonomi? Dari tiap malam bila ujian datang selalu begadang? Hanya untuk mempelajari berbagai macam cacing yang disebut dengan kurva?! SEBENARNYA APA SIH WOY.

Sebuah tamparan keras saat itu. Dulu, sewaktu jaman putih abu – abu, mendengar kata “ekonomi” saja membuat ngantuk, apalagi ketika ingin mempelajarinya? Nilai UN terendah saja berada pada mata pelajaran ekonomi, tapi kenapa saya memilih untuk masuk jurusan ini dan ingin mendalaminya? Kenapa?! Apa saya beneran salah jurusan, dan baru sadar ketika menginjak di semester 5?

Semua anggapan kecil itu menjadi – jadi hingga akhirnya malas untuk mempelajari yang memang seharusnya untuk dipelajari, pastinya dengan berkedok “salah jurusan”. Dilema? Iya, dilema. Hingga akhirnya ada seorang teman bilang bahwa, “Jangan jadikan bahwa salah jurusan membuat kamu untuk malas mempelajari apa yang semestinya harus dipelajari, karena ini jurusan yang kamu pilih. Iya, emang ini bukan sebuah passion. Saat ini, kamu memang tak bisa kuliah dengan jurusan yang sesuai dengan hobby mu. Tapi yang harus diingat, bahwa kamu sekarang punya banyak ilmu. Kamu bisa mendalami ekonomi, tapi juga bisa jalankan hobbymu.”

Yass. Ekonomi adalah bonus. Coba bayangkan bila tak masuk jurusan ekonomi. Mana mau seorang Nurmalita ingin membaca berita, terlebih berita ekonomi.

You May Also Like

0 komentar

Haloooo! Terimakasih udah menyempatkan waktu untuk membaca. Jangan lupa tinggalkan komentar ya! :D