Kisah Klasik Putih Abu - Abu

by - 11:14:00 PM

Dia yang saat itu selalu bersemayam disetiap hari sabtu yang bertempat di aula. Entah apa yang dia lakukan, aku juga tidak peduli. Karena memang bukan urusanku. Hari itu cukup ramai, namun setelah agak siang tempat itu mulai sepi. Yang tersisa ya hanya para pengurus anak gajah yang sedang menghias dinding aula dengan beberapa tulisan. Aku ikut membantu para rekan saat itu.  Hingga akhirnya dia datang, numpang duduk di panggung, dan yang terakhir yaitu...saling bertegur sapa dengan para orang yang dikenalinya.

Kami pun mengobrol. Semacam basa basi biasa. Formalitas kok, tenang saja. Dia yang saat itu meletakan handphone berry hitamnya ke lantai, tak sengaja hampir ku injak. Meledaklah segala canda saat itu. Hanya canda biasa. Formalitas kok, tenang saja. Entah apa, kami pun membicarakan mengenai web pengurus anak gajah. Ketertarikan pada dunia blogging memang sudah ada, makanya saat itu aku bertanya. Santai, ini bukan modus. Cuma tanya penasaran seperti biasa. Dan hingga akhirnya dia pun setuju untuk membantu. Membantu biasa. Namanya juga orang baik, kalau hanya membantu pastilah bisa. Santai saja.

Usai sudah segala permintaan dan bala bantuan yang ia berikan. Usai juga percakapan kami melalui pesan sms, pikirku saat itu. Pesan yang kami kirim tidak jauh – jauh dari web pengurus anak gajah kok, tenang saja.

Beberapa hari kemudian, sebuah pesan pun masuk. Dari dia. Hanya samar yang aku ingat saat itu. Intinya, dia hanya menegur sapa. Dengan pesan teramat sopan, diawali dengan sebuah salam, dan diselipi oleh tanda seru di akhir kalimat. Selalu saja begitu, di hari – hari kemudian. Dengan kalimat pembuka yang sama, diawali dengan sebuah salam, dan diselipi oleh tanda seru di akhir kalimat. Dan satu lagi, tentunya dengan menulis akhiran namaku dengan huruf konsonan. Terkadang juga alphabet yang selalu berlebih dua huruf yang tertera pada namaku. Ceria sekali kelihatannya, padahal juga dia yang diseberang sana mengetik pesan dengan nada biasa saja. Atau mungkin dengan wajah datar, pikirku saat itu.

Pernah pada suatu hari, aku duduk untuk mencoba belajar. Menghafal adalah hal termalas yang harus dilakukan. Namun sebuah pesan sapaan itu datang. Mencoba menahan senyum, namun apa daya. Buku LKS yang aku abaikan sejak tadi, ku ambil juga akhirnya. Semacam sihir, tapi terdengar berlebihan. Hanya dengan sebuah pesan, membuat seorang anak semangat untuk belajar. Ditambah dengan sebuah emoticon. Tenang, ini bukan emoticon biasa. Emoticon ini terkenal pada masanya. Biasa ditemukan di sebuah sosial media bernama twitter. Dan penggunanya kebanyakan dari orang yang memakai berry hitam. Senyumku makin mengembang, saat itu. Iya, saat itu saja.

Permainannya telah dimulai. Sebuah plastik bertengger di sebuah motor yang sedang aku pinjamkan kepada temanku. Teriakan teman terdengar sampai lantai dua. Karena takut ketahuan teman lain, yang padahal tidak tahu itu bingkisan dari siapa, bingkisan itu aku simpan di loker sekolah hingga nanti pulang. Ternyata sebuah oleh – oleh. Terimakasih banyak ya.

Saat masih di basecamp pengurus anak gajah, ada sebuah pesan masuk. Mengajak pulang bersama katanya. Tapi tetap, beda kendaraan. Dia ikut ke jalan yang biasanya aku lalui untuk pulang, diselipi beberapa obrolan di tengah perjalanan. Dasar manusia. Kalau ingin ngobrol ya berhenti, bukan di jalan. Tapi tetap saja dilakukan. Khilaf, namanya juga manusia. Tak lupa pula dengan merasakan sentoran AC dari sebuah mall bernama Sri Ratu sepulang sekolah di teriknya siang hari. Salah satu hal yang dinanti, iya, AC-nya.

Di sela – sela waktu senggang, kami pergi ke sebuah tempat. Tempat dimana dia pernah bermain disana. Padahal jarak yang ditempuh cukuplah jauh. Bodohnya aku, saat itu. Menyusuri jalanan yang pinggirnya dipenuhi bambu, sempat tersesat di sebuah gang, hingga sampailah kami ke tempat itu. Sebelum pergi, kendaraan kami di rantai terlebih dahulu. Cukup was – was, tapi ya bagaimana lagi. Akhirnya kami pun berjalan. Bertemu dengan seorang nenek yang bertanya kepada kami. Dia yang telah akrab dengan tempat tersebut langsung reflek menjawab, “badhe mlampah – mlampah”.  Kanan kiri penuh dengan rumput. Rumput yang tingginya hampir seperti kami. Benar – benar ke entah berantah.

#np Banda Neira – Ke Entah Berantah

Yak abaikan.

Taukah tempat apa yang kami kunjungi? Sebuah sungai. Dan dia pun berenang kesana kemari. Tanpa takut digigit ular mungkin? Atau bahkan buaya? Namun, pasir disana benar – benar lembut. Selembut coklat yang dihidangkan di pinggir sungai, ditemani beberapa kupu – kupu kuning yang bergerombol, pada saat itu. Akhirnya kami pulang. Tak lupa, sebelum pulang kami makan. Karena saat itu benar – benar lapar.

Di istirahat kedua saat sekolah, setelah dari kantin. Sebuah boneka yang tidak tahu itu milik siapa, ada di sebuah motor yamaha berwarna putih. Itu motorku. Dan bonekanya? Aku juga tidak tahu. Mungkin dia milik seseorang, namun tertinggal, pikirku saat itu. Dicarilah tanda – tanda disekitar boneka itu, namun juga tidak ada tanda yang tertinggal. Nggak lucu parah, sambil ngomel sendiri. Tapi, sebuah senyum ada pada saat itu.

Bingung untuk balas dendam. Akhirnya pada saat ulangan tengah semester, di saat semua anak sudah masuk, disobeklah sebuah kertas dari sebuah notes. Buru – buru karena semua peserta sudah masuk ke dalam ruang ujian, ditambah takut ketahuan kalau ada yang melihat. Dan fiola, selesai sudah. Digambarlah sebuah muka anak laki – laki, dibubuhkan juga beberapa kalimat, ditempelah ke kaca helmnya. Tapi dengan posisi kaca helm yang masuk ke tempatnya. Saat dia menutup muka dengan kaca helmya, agar debu tidak masuk mungkin saat berkendara, dan..taraa! Kertas kecil itu pasti terlihat. Cerdas tidak? Pasti jelas.

Di waktu senggang sekolah, sahabatnya sedari kecilnya datang. Kami bertiga melakukan nober, nonton bertiga. Setelah itu, sampailah kami di sebuah stasiun yang bernama Stasiun Tawang. Padahal, hanya ingin mengantar temannya untuk membeli sebuah tiket pulang. Epic memang.

Pernah juga kami mengobrol, mengenai Sang Pencipta. Hingga akhirnya dia bawakan buku, yang bahasanya Allahuakbar Lailahailallah bukan bahasa Indonesia sepertinya, namun menggunakan bahasa tetangga. Karena kata dia bukunya bagus, makanya aku coba untuk membaca. Sulit. Iya, sulit. Sesulit mengerjakan ulangan fisika yang mendapat nilai 50 lalu remidi dan mendapat 30. Lah, numpang curhat, haha. Sampai akhirnya buku tersebut dikembalikan, sudah dibaca semuanya kok, seriusan. Bagus sih, lebih sulit dari LKS Sejarahnya Bu Minion sepertinya.

Karena sudah selesai membaca, dia bilang ingin meminjamkan buku lagi. Matilah aku. Semoga saja tak sesulit buku yang pertama. Masih ingat juga buku tersebut dibungkus plastik Indomaret. Saat pulang sekolah, aku melihat beberapa tutorial membuat pembatas buku origami. Buku ulangan saja belum tersentuh, apalagi buku yang dia pinjamkan. Karena tiba – tiba teringat, diambilah buku tersebut. Tak sengaja, ditemukanlah beberapa pesan kecil dan pembatas buku yang memang sudah dia siapkan. Gemas, saat itu. 

Twitter memang sedang booming saat itu. Bukan kode, bukan curhat. Seriusan, hanya ingin bikin hal lucu – lucuan. Sampai akhirnya terbesit untuk mengganti bio di twitter. Biskuat choco lover, tulisku saat itu. Tapi, seriusan. Biskuit itu memang enak, masih pada saat itu. Entah di hari berikutnya, ada sekotak biskuat. Iya, di motorku. Kotak besar, lebih besar dari yang setiap hari beli di kantin sekolah. Coklat pula. Haha, siapa yang tak senang? Karena ketahuan oleh salah satu pengurus anak gajah, akhirnya biskuat itu dibagikan.

Bingung lagi untuk balas dendam. Akhirnya, saya menemukan sebuah alamat rumah. Dibuatlah sebuah kartu, coklat (karena konon coklat membuat mood meningkat), dan permen. Dibalut dengan sebuah amplop coklat dengan berbagai doodle. Dikirim dengan menggunakan jasa kantor pos, tak lupa dibubuhi sebuah perangko, dan dikirim saat pertengahan ulangan tengah semester. Akhirnya sampai juga paket kecil itu. Terdapat sebuah pesan dari email, dari dia. Terimakasih, katanya.

Selalu saja dia menyebut kata ritual. Ku pikir dia mempunyai suatu kemampuan. Ada ritual pagi, sore, malam, bahkan ritual bersama adik. Gila. Sampai akhirnya aku bertanya. Dan diajaklah untuk mengikuti ritual. Sampailah di tempat gelap dan sepi. Ya Allah tolong lindungi, doaku saat itu. Motor kami pun diparkirkan di tempat itu. Dan akhirnya, kami masuk ke sebuah rumah makan. Disuruh memesan, dan dua piring steak pun datang. Aku yang tak bawa uang lebih, pesan yang termurah dari semua makanan yang ada. Apanya yang ritual? Diambilah sendok dan garpu. Dilihatlah ekspresi wajahnya, senyum licik. Bodoh sekali ternyata, harusnya aku ambil pisau dan garpu saja. Sebuah tawa meledak. Akhirnya kami pun makan, diselingi beberapa obrolan. Dan itulah yang dinamakan ritual. Makan, agar tidak lapar.

Sore itu, aku berjalan untuk menuju ke suatu tempat. Namun, tak pernah berharap untuk berpapasan. Karena apa? Ya apalagi, kalau bukan bingung harus berbuat dan berkata apa. Dan kejadian itu terjadi juga.  Aku melihat dia, dia pun juga sama, dari kejauhan, dalam sebuah koridor kelas, yang tidak ada celah untuk berpindah. Sial sekali waktu itu. Bingung harus apa. Jarak kita pun kian dekat. Aku coba untuk sibukan diri dengan menekan tombol, dan menaruh handpohe di telinga. Padahal juga tidak tahu untuk menelpon siapa.  Dia pun menyapa. Dan aku? Hanya mengangkat alis dan berkata ‘oy’ sebagai kata sapaan. Setelah itu kami pergi ke arah yang berbeda. Lucu ya, bagiku saat itu.

Berlanjut hingga saat itu mendekati tanggal kelahiranku. Aku pulang dengan ekspresi biasa saja. Karena memang tidak ada apa – apa. Padahal aku telah tahu, bahwa dia sedang memesan beberapa postcards melalui e-mail. Kenapa bisa tahu? Panjang ceritanya. Esok, esok dan esok harinya, karena datang terlambat, akhirnya aku parkir di depan. Sengaja juga, dia bisa menemukan motor yang biasa dia tinggalkan sesuatu atau tidak. Suntuk sekali waktu itu. Dan benar kan, sebuah amplop besar tercantol di spion motor. Ada sebuah surat, origami, dan postcard pesananya. Dalam hati bilang, Ya Allah, You really made my day. For sure. Sambil senyum juga, saat itu.

Perang versi anak sekolah menengah atas pun makin dekat. Banyak anak yang berjalan menuju ke masjid. Aku pun juga ikut. Selain doa dan ridho yang ditujukan untuk Yang Maha Esa, selalu saja aku mendapat bonus. Entah melihat dia sedang duduk di selasar, dengan wajah bersinar dan senyum mengembang, atau saat dia menggemakan takbir. Takbir dengan tangan bergetar, yang selalu membuat banyak pertanyaan. Kagum sih, tapi aku nggak boleh bilang. Nanti dia besar kepala.

Perubahan dari dia yang masih biasa, hingga sereligius sekarang menimbulkan banyak tanya. Bagaimana bisa? Salah satunya, mungkin karena adanya peran orangtua, atau memang usaha darinya pribadi. Banyak sisi positif yang bisa diambil. Hingga kini, sebuah kabarnya pun juga tidak tahu. Terbesit untuk membuat suatu prestasi, agar dia mengajak kolaborasi juga, mungkin? Tapi tentu tidak mungkin, karena aku bukan anak riset wanna be. 

Setiap pertemuan dalam hidup tidak ada peristiwa yang datang hanya kebetulan. Setiap pertemuan pasti akan membawa sebuah cerita. Entah bahagia atau petaka, yang pasti, menjadi salah satu pemain di dalam chapter hidup ini sangatlah bersyukur. Karena apa? Karena, salah satu dari perkataan atau perbuatan dari orang yang kita jumpa akan mempengaruhi apa yang telah kita lakukan hingga sekarang.


Namun, berhubung dia teramat baik, walau terkadang apa yang dikatakan suka nyelekit. Yang terpenting, meskipun sudah 2 tahun lebih tak pernah bertemu atau bahkan tak bertegur sapa, semoga selalu bertambah baik. Entah dari ilmu, kesehatan, atau..apa saja. Terserah dia, aku cuma bantu ucapan aamiin tertulus 2k17.­­

You May Also Like

0 komentar

Haloooo! Terimakasih udah menyempatkan waktu untuk membaca. Jangan lupa tinggalkan komentar ya! :D