Meetup Teman Sahabat Pena

by - 5:21:00 PM

Pernah tidak, memikirkan untuk bertemu dengan sesorang yang memang sebenarnya sudah sering kontak – kotakan. Sudah bertahun – tahun, tapi nggak pernah ketemu? Dan disaat sudah besar, akan direncanakan sebuah meetup? Rasanya bakal….malu – malu gimanaa gitu. Lol.

Jadi saat liburan semesteran di pertengahan tahun 2016, tiba – tiba seorang sahabat pena ngeline saya. Dia bilang kalau dia akan ke Semarang bersama teman – temannya. Waaah seru! Jadi guys, perkenalkan ya, biar makin kenal makin di sayang. Ahay sa ae bos. Saya dan Melati. Kami mulai berteman sejak lagi boomingnya sahabat pena di jaman kelas 6 SD, tepatnya di majalah Bobo, majalah favorite nun harganya yang sulit dijangkau saat itu:”(. Saya iseng untuk mengirim surat bahwa ingin berteman dan blablabla akhirnya kami kenal dan surat – suratan sejak kelas 6 SD. Meski adanya perkembangan jaman, media informasi pun semakin mempermudah. Kami tetap masih kontak – kontakan melalui media sosial yang kami punya. Dia pun juga kenal dengan adik saya, begitu juga dengan sebaliknya. Kalau ngobrol serasa akrab padahal ketemu aja juga nggak. Kami juga sempat berencana untuk meetup, ketika saya di Jakarta ataupun sebaliknya. Namun hal itu tak pernah terwujud alias semua cuma wacana.

Hingga akhirnya datanglah sebuah pesan bahwa dia akan ke Semarang. Yakali ga gas. Bayangkan cuy, 8 tahun saling chat – chatan tralala trilili nggak kepikiran untuk free call dan video call. Bahkan sms pun dijabanin. Akhirnya dengan menguatkan mental (berasa ketemu apaan lol) akhirnya kami bertemu juga! Sempet deg – degan sih, bagai bertemu jodoh (padahal jodoh pun lum tau yang mane). Abaikan. Saya jemput Melati and friends di Tembalang. Cukup lama, akhirnya dia muncul juga. Destinasi kami yang pertama adalah mengunjungi Eling Bening. Tapi sebelum itu, saya mengajak Arin juga biar rame. ((sekalian dibakar aja woy biar rame cetar membahana)). Oke, abaikan. Saya menyarankan untuk berwisata di daerah bawah saja, karena untuk mendengar kata “Eling Bening itu merupakan nama tempat yang asing. Memang, pada saat itu Eling Bening masih terbilang baru. Dan akhirnya kami pun tetap pergi kesana. Dan did u kno? Pemandangannya sungguh luar biasa, the real kesegaran yang alami. Melalui Eling Bening, kita bisa melihat beberapa pemandangan rawa pening, jalanan menuju ke Eling Bening yang berkelok, dan ditambah suasana dingin – dingin empuk gimana gitu. Namun, karena kami datang setelah beberapa hari dari grand opening, banyak fasilitas Eling Bening yang masih di renovasi dan ditambah. Tapi, untuk pemandangan dan hawa bakal dapet sih. Ada tempat makan dan musholanya juga kok, so don’t worry. Recommended pokoknya! Oh iya, lupa. Untuk masuk ke Eling Bening akan dikenakan biaya sebesar Rp 5.000,00/orang (sudah termasuk air putih).

Diperjalanan, kami juga cerita – cerita banyak hal. Mulai dari cerita surat – suratan, lalu cerita Melati ketika bertemu dengan para sahabat penanya. Yak guys, sahabat penanya dia lumayan banyak. Mana ada yang cowo pula, padahal biasanya di dunia persuratan telah didominasi oleh kaum hawa. Lalu, cerita ketika saya ke Jakarta masih belum boleh untuk bertemu dengan Melati. Dikarenakan saat itu lagi boomingnya orang diculik melalui pertemanan facebook. Jadi, orang tua saya takut bahwa saya akan ditipu atau bahkan diculik. Lol, siapa juga yang mau nyulik:’). Hinga akhirnya Melati ke Semarang dan kita bertemuuu! Melati saat itu juga bawa kado untuk saya, speechless, karena saya ga bawa apa – apa untuk dia. Terimakasih banyak Meeel!

Yak lanjut. Perjalanan kedua kami adalah ke Vihara Budhagaya Watugong. Ini juga pertama kalinya saya kesini. Semacam Klenteng Sam Poo Kong, namun yang ini ada Pagodanya. Untuk biaya masuknya juga sukarela, mungkin dikarenakan disitu adalah tempat ibadah kali ya?

Karena hari masih cukup sore, belum malem (ceritanya pantang pulang sebelum malam), akhirnya kami ke Simpang Lima. Sebelumnya kami jajan dulu di jajanan pinggiran dekat Taman KB. Setelah itu, kami jalan kaki dari Taman KB ke Simpang Lima. Yak, bisa dibayangkan betapa lelahnya kaki adinda #butuhtukangpijet #pijetforlyfe. Namun, demi sahabat pena apasih yang ga #ceilah #pencitraan #nakaltapitampan #ggsmodeon. Yak, sekali lagi mohon abaikan.

Lalu mereka pada foto – foto di tulisan Simpang Lima. Seumur – umur setelah muncul tulisan Simpang Lima, cuma sama mereka aja nih mau foto di depan tulisannya:’). Setelah puas untuk berfoto ria, akhirnya kami pun pulang ke tempat parker, ke taman KB lagi. Jalan kaki. Sungguh tepos kaki adinda.

Di hari kedua, mereka jalan – jalan sendiri. Biarkan mereka berpetualang di Kota Semarang secara mandiri. Karena makin mandiri, makin seru katanya. Keesokan harinya mereka pun pulang. Sebelumnya, kami bertemu di tempat oleh – oleh Pandanaran dulu lalu baru ke Stasiun Poncol untuk berpisah. Sebelum berpisah, akhirnya saya kesampaian untuk ngasih dia pigura dan foto – foto kita sewatku main ke Eling Bening. Meski bawanya bakal rempong, semoga suka ya Meeel!

You May Also Like

0 komentar

Haloooo! Terimakasih udah menyempatkan waktu untuk membaca. Jangan lupa tinggalkan komentar ya! :D