Part II - Naik KRL

by - 7:11:00 PM

Waktu di Semarang sebelum berangkat ke Jakarta, saya baru tau kalau temen-temen cewe nggak pada pulang ke Semarang. Ha ha ha matilah awak. Akhirnya saya cerita ke Ratih, trus dia bilang, “Yaudah main ke rumahku aja.” 

OIYAA GA KEPIKIRAN COYY

Hidup saya terselamatkan saat itu. Saya mulai tanya ke temen-temen cowo yang di Jakarta. Sebenernya kode biar dijemput, dan mereka semua ngga peka:”) Salah satu diantara mereka bilang, “Mending naik krl, trus turun di Bekasi. Ntar dijemput.” Oh meeen wud is krl?!

Jadi saat teman-teman mulai pergi ke tujuannya masing-masing, saya dan Dian diantar oleh Ricot's family ke Stasiun Pasar Senen. Setelah sampai, Mama Ricot masih mengingatkan mengenai rute krl yang harus saya hafalkan, dan menghafal salah satu hal sulit yang dilakukan. Sedih lah pokoknya. Dian pun meyakinkan bahwa krl itu aman. It’s ok Yan, it’s ok. Sebelum naik krl, saya minta tolong Dian buat nemenin beli tiket pulang dari Bandung ke Semarang. Awalnya saya mau nyoba beli manual aja dengan nulis nama kereta, nama asal stasiun dan tujuan stasiun. Dan ternyata...antrinya panjang banget. Ujung-ujungnya give up dan berdiam diri di dalam indomaret. Ternyata, dengan melalui Indomaret kita juga bisa beli tiket kereta. Lebih praktis dan cepet deh pokoknya. Setelah mendapat struck pembayaran tiket seharga Rp 230.000,00 untuk tanggal 5 Februari 2015, selanjutnya saya juga langsung cetak tiket biar sekalian. Karena saya udah dapet tiket pulang, Dian pun juga memutuskan untuk mencari taksi dan pulang ke rumah kakaknya. Oke fine, im alone. 

Muka "sok ngerti" sama keadaan Jakarta pun saya keluarkan HAHA. Bener-bener ngga ngerti harus apalagi coy, akhirnya saya memutuskan untuk bertanya pada satpam tentang gimana cara untuk beli tiket KRL. Ini pelajaran penting banget, bertanyalah sebelum tersesat. Dengan baik hati bapaknya menunjukan loket pembelian tiket KRL. Dengan membayar Rp 8.000 saya mendapatkan sebuah kartu jaminan. Setelah itu..tik tok ga tau harus harus ngapain. PARAHH HAHA BUTUH MAMA:"
Tiket KRL

Dengan kesoktahuan yang super dahsyat, saya masuk ke sebuah pintu yang biasanya menerima penumpang yang ingin masuk ke kereta dan bertanya kepada penjaganya. Ternyata pintu masuk untuk KRL bukan disitu. Oh men oke noprob. Untuk memastikan lagi, saya bertanya tentang rute untuk menuju ke Bekasi. Dengan mantap saya selalu menghafalkan nama stasiun yang sangat asing untuk didengar. Sambil mengulang-ulang “manggarai-jatinegara-bekasi” biar nggak lupa. Tiba-tiba masnya yang jaga bilang gini, “coba kalo saya libur neng, pasti saya anter”. EEEEBUSEEET SEREM BOS.

Jadi, pintu masuk kereta biasa dengan kereta KRL itu berbeda. Kalau kereta biasa kan hanya menunjukan tiket dan KTP, kalau pintu KRL kita hanya menyecan kartu jaminan. 

Akhirnya saya langsung cepet-cepet meninggalkan mas-mas yang bertugas dan bergegas menuju ke pintu masuk krl. Lorongnya sepiii banget dan hanya ada satu yang jaga. Tiba-tiba petugasnya bilang, “sendirian aja neng.” Ewoooy serem woooy. Saya langsung mempercepat jalan dan tetap memegangi tas selempang dan violaaa sampailah saya di peron krl. Saya duduk, dan mulai dilihatin sama orang-orang di sekitar. Saya tetep megangin tas, dan ternyata mereka fine-fine aja ahehe. 

Kereta KRL cukup unik, pintunya bisa terbuka dan menutup sendiri. Kursinya juga seperti kereta di Jepang #maafkampungan. Oh iya, sewaktu saya duduk tiba2 saya lupa kemana stasiun tujuan ke Bekasi. Tiba-tiba speaker stasiun bunyi dan memberitahukan bahwa kereta menuju Depok akan datang sebentar lagi. Tentu saja saya tidak naik karena tujuan saya ke Bekasi. Orang-orang pun pada berdatangan, stasiun pun menjadi ramai dan saya terselamatkan. Selang 30 menit, kereta dgn tujuan ke Bogor pun lewat, tentu juga saya tidak mungkin naik kesitu. Kata Mama Ricot, paling ngga KRL itu 30 menitan kita udah bisa naik ke tempat yang ingin dituju. Namun skg udah 1 jam. Karena ragu, saya pengen tanya ke bapak-bapak yang jaga. Namun karena di dalam hati nurani saya sangat yakin bahwa ini bukanlah kereta tujuan ke Bekasi. Dan mendadak, orang yang rame2 berdiri dan duduk ini pada masuk ke kereta tujuan ke Bogor. Eebuset, orang2 sini rumahnya Bogor semua kali yak. Karena semakin sepi, saya pun semakin ragu. Akhirnya saya coba bertanya kepada bapak2 penjaga.

"Pak, kereta tujuan ke Bekasi masih lama ga ya?"
Bapaknya bilang, "Lah ini keretanya dek (sambil nunjuk kereta kedua yang udah mulai jalan)"
"(Dalem ati: its oke pak, no problem, im fine tenan:")"

 Stasiunnya sepi, efek dari ketinggalan kereta.
Its oke, ngga papa. Jadi ternyata, kalo speaker pengumumannya bilang "Bogor", berarti tujuan akhir kereta tersebut menuju ke Bogor. Intinya, kereta tersebut punya tujuan akhir ke Bogor, namun akan melewati Stasiun Manggarai, dan Stasiun Manggarai adalah Stasiun yang harus saya lalui untuk menempuh ke Bekasi. Ribet uga yha. Karena geregetan, saya akhirnya nunggu di sebelah bapaknya biar semakin safe. Akhirnya kami ngobrol2 dan saya dikasih beberapa rute yg harus saya hafalkan lagi. Thanks Allah, thanks bapake! You saved my life ahay!

Sewaktu menunggu kereta ketiga, saya melihat fenomena yang emm..cukup menyedihkan. Jadi ada anak balita yang ingin buang air kecil, namun ibunya mengacuhkannya. Saking kebeletnya akhirnya balita itu ngompol, dan ibunya cuek aja. Omg. Saking cueknya, ketika kereta datang anaknya langsung digendong buru-buru. Hadeu, kenapa gitu ya ga diajak ke kamar mandi, atau mengganti pakaian balita itu dulu dengan pakaian yang kering. Kerasnya metropolitan.

Oke, abaikan curhatan saya diatas. Setelah kereta datang, saya segera mencari tempat duduk. Ternyata, tempat duduk antara laki-laki dan perempuan juga dipisah. Alhamdulillah, You saved my life again Ya Allah, ahay! Saya duduk, diam, deg-degan, sambil megangin tas slempang. Kereta pun berhenti di sebuah stasiun. Karena takut salah lagi, akhirnya saya beranikan untuk bertanya. Ternyata ini adalah stasiun yang saya tuju sebelum menuju ke Bekasi, yaitu Stasiun Manggarai. Setelah turun, saya beranikan tanya lagi tentang kereta dengan tujuan ke Stasiun Jatinegara

Keretanya sepi dan dingin. Sedingin air hujan yang dengan riangnya turun #halah

Nah iya kan dingin abis ujan. 

"Pak, kereta tujuan ke Jatinegara kapan ya datengnya?"
Dengan santainya, bapak itu menjawab, "Lah itu dek (sambil nunjuk kereta yang baru aja nutup pintu dan langsung jalan)"

Ahehe nice. 

Dibelakang saya tiba-tiba ada segerombolan anak yang terdiri dari 5 anak yang juga mengeluh karena ketinggalan kereta. Saya beranikan buat jb (join bareng) mereka. Saya membuka percakapan,

"Haha parah keretanya udah jalan"
(Masih ngomel2 sendiri) "&@$@&&@"
"Kalian juga mau ke Stasiun Jatinegara? Emang kalian mau kemana?"
"Ke bekasi hehe"
"Wah sama dong, kalo gitu bareng ya"
Dan lalu mereka sibuk sendiri.

Abaikan jb gaje diatas. Yang penting sekarang ngga sebatang kara kaya hachi. Jadi, selama di kereta saya bareng merekaa terus. Tapi sayangnya, mereka ngga tanya balik. Mungkin mereka was-was kali ya kalo orang asing yang tanya-tanya gaje itu orang jahat, atau mbak-mbak perantauan dari desa, or what else yang bikin mereka cuek gitu.

Selama di kereta, alhamdulillah selalu kedapetan tempat duduk dan tempat yang sepi. Tapi saat di kereta ketiga, keadannya rame bangett! Saya sampe berdiri, mana tas punggungnya berat. Yaudah nikmatin dan bayangin rasanya pulang kampung mungkin seperti itu kali ya ahehe.

Waktu mulai liat tulisan "Bekasi" rasanya seneng banget hahalay dasar #maafkampunganlagi. Berarti tandanya usai sudah petualangan saya bersama KLR tercinta. Lalu cepat-cepat saya ambil handphone dan mencari nomer seseorang, tapi ternyata dia udah telfon duluan. Waktu keluar dari stasiun, teman saya mencoba dadah-dadah dari pintu keluar. Hahaha keren uy kaya di film-film. Dengan bertemu orang yg dikenal seenggaknya bikin hidup lebih tenang.

You May Also Like

8 komentar

Haloooo! Terimakasih udah menyempatkan waktu untuk membaca. Jangan lupa tinggalkan komentar ya! :D