Johar Terbakar

by - 9:31:00 PM

Setiap manusia pasti akan mendapatkan suatu musibah. Entah itu musibah yang kecil, sedang, dan besar. Dan tentu, orang lain yang mendengar akan ada yang acuh, peduli, bahkan pura-pura simpati. Masih ingatkah kamu tentang musibah yang terjadi baru-baru ini? Yang membuat ratusan orang menangisi atas “sebuah kejadian yang tak diinginkan”...

Di malam itu kira-kira pukul 21.30, saya tiba di rumah seusai bermain. Setelah sholat dan ganti baju, saya memutuskan untuk bersantai sejenak. Tiba-tiba, telepon rumah pun berdering dan segera diangkat oleh Mama. Mimik dan suara Mama pun berubah. Menurut saya, pasti ada “sesuatu” yang tidak mengenakan di dalam percakapan tersebut. Mama pun bergegas dan bersiap-siap untuk pergi, “Dek, jaga rumah ya. Mama mau pergi ke Johar. Johar kebakaran.”

Seisi rumah pun terkejut, begitu pula dengan adek sepupu saya yang memang berniat menginap di rumah. Ayah, Mama, dan Tante saya pun segera menuju ke Johar. Saya pikir itu hanyalah kebakaran biasa dan toko punya Mbah Kung terletak di dalam Pasar Johar, pasti juga nggak bakal kena. Hanya kaget, mengucap innalillahi, usai sudah rasa empati itu. 

23.30, saya memang belum memutuskan untuk tidur karena memang belum terasa mengantuk. Saya coba untuk mengetik dan browsing sejenak. Tiba-tiba adik saya berteriak dari lantai dasar, dia bilang, “Mbak Lita!! Disuruh Ayah ke Johar sekarang! Kuncinya Ayah ilang!” Lalu saya turun dan segera bersiap. Kiki yang sedari tadi riweh, ribet sendiri, ingin segera sampai kesana. Sok ide, pengen naik motor pula saking terburu-burunya, apa nggak gila.

Saya bilang “Selaw, sante, jangan kemrungsu. Kalo cepet-cepet nanti ada yang ketinggalan.” Saya agak panik juga waktu itu. Paniknya ya gara-gara kunci Ayah yang hilang. Sampai kerudung saya cuman disampirkan saja, ga pake di peniti. Seperti mbok-mbok jualan sayur ehe.

Akhirnya saya bagi tugas, saya bersiap dan adik saya mencari kunci serep mobil. Dan akhirnya kita meluncur ke TKP. Ternyata.. semua yang saya pikirkan, lebih dari sekedar apa yang dibayangkan. Keadannya rame banget. Banyak orang-orang yang ingin melihat keadaan Johar, melihat kebakaran, sampai bawa anak kecil pula. ((Oh men plz kowe ki ngebak-ngebaki dalan))

Saya suruh adik saya untuk mencari dimana mobil Ayah parkir, ternyata tepat di depan kantor pos. Akhirnya adik saya turun. Dan saya..tenang aja masih ditemani seorang sepupu. Jalanan sangat ramaiiii sekali. Banyak mobil pemadam dan orang berlalu lalang. Saya pikir api sudah padam. Akhirnya saya memutuskan untuk memarkirkan kendaraan dan turun untuk membantu apa yang seharusnya dibantu.

Ayah bilang bahwa kunci yang dibawa oleh adik itu salah. Nah kan dibilang juga apa jangan terburu-buru. Akhirnya Ayah pulang ke rumah, untuk mencari kunci, dan ditemani oleh adik saya. Dasar. Saya mendapatkan mandat untuk menunggu di mobil Ayah, bersama sepupu saya (lagi). Batre handphone saya lowbat, dan akhirnya..do nothing. Saya memutuskan untuk melihat di sekitar, sembari di gigitin nyamuk. Ngelihatin orang-orang yang menunggui kendaraannya, orang yang bergotong membawa barang dagangan, orang yang menunggu “semoga becakkku malam ini laku”, bahkan ada yang bersiap memanfaatkan situasi yang ada (if u kno wht i mean)


Hingga pada suatu waktu, saya melihat seorang ibu yang terengah-engah berlari menyelamatkan barang dagangannya. Barang dagangan yang masih tersisa, sembari menangis..
Itu sedih bangett... Ngga bisa bayangin lagi kalau ada pedagang yang rumahnya jauh dari Johar, tidak punya kendaraan. Yang setiap harinya ngangkot dan tepat malam itu tokonya habis terbakar.
---
Ayah pun berhasil mendapatkan kunci serepnya. Waktu telah menunjukan pukul...2 pagi kira-kira. Saya bertemu dengan Tante dan Budhe saya, yang tentunya bercucuran keringat dan sangat kelelahan. Mama dan Tante memutuskan untuk melihat toko disisi lain. Saya nggak hafal nama tempatnya, pokoknya di daerah kauman. Dengan kecepatan secepat kilat kita sampai ke tempat yang ingin dituju. Dan jalanannya....sangat sepi. Seperti kota mati.

Saya ditinggal sendirian di dalam mobil. Sendirian. Di kota mati. Karena takut ada yang “aneh-aneh“ akhirnya saya memanfaatkan batre yang tersisa untuk chat dengan seorang teman. Dan ternyata dia masih bangun:””) setelah itu batre handphone habis, dan matilah saya. Untung Mama dan Tante segera datang. Lalu kita akhirnya pulang ke rumah. Di perjalanan, kami melihat mobil yang membawa barang banyak, dan Mama saya bilang, “pasti itu dari Johar.”

Tetiba di rumah, Mama teringat dengan tetangga kami yang juga mempunyai toko di Johar. Kondisi rumahnya normal seperti biasa. Mobilnya pun masih di rumah. Karena khawatir kok mereka nggak ikut riweh juga, Mama akhirnya telpon pemilik rumah tersebut. Dan ternyata mereka udah tau kalau Johar kebakaran. Jam menunjukan pukul 3 dini hari saat itu.

Keesokan harinya, masih dengan berita yang lagi panas-panasnya Mama saya bercerita. Tentang api yang benar-benar ada di depan mata, panas yang menyengat kulit, dan para pedagang yang hanya pasrah melihat tokonya terbakar.

Mengenai toko yang dimiliki tetangga saya? Itu semua udah abis. Ternyata api tersebut sudah ada sejak jam 20.30. Bapak dari pemilik tersebut bersegera ke Johar bersama anaknya, dan ternyata tokonya telah dilahap oleh api. Anak dari Bapak itu ingin naik ke lantai dua (karena tokonya terletak di lantai dua), namun bapak tersebut nggak mengijinkan. Trus ya yaudah, mau gimana lagi. Yang bisa dilakukan hanyalah berpasrah diri sama Allah.

Jadi inget dulu sering banget diajak Mama muter-muter Johar. Dan Mama selalu tau seluk beluk jalannya. Dari mulai ngerti flatshoes hanya 50.000, baju dan tas yang murah meriah, es gempol terenak sejagad raya, toko bunga yang beraneka ragam, para pedagang yang selalu menawarkan dagangannya, para pencopet yang selalu berkeliaran. Dari yang mulai mencoba explore Johar sendirian dan malah tersesat di kumpulan kios bawang dan cabe merah yang baunya sangat menyengat. Padahal, baru saja kemarin merencanakan ingin beli ini, itu di Pasar Johar. Aaaah pasarku..


Masih inget banget di daerah sana ada bapak-bapak yang sukanya nawarin alat keperluan dapur dan rumah tangga kayak pisau, sapu, engkrak, sekop, dan banyaaaak lagi.

Tepat di depan toko itu, pedaganya baru saja kulakan untuk persiapan lebaran yang menghabiskan puluhan juta dan seketika semua barangnya habis terbakar. 

Semoga para pedagang yang ditimpa musibah selalu diberi ketabahan, diberikan rejeki yang lancar serta secepatnya mendapatkan lapangan pekerjaan yang baru sehingga mereka tidak terlalu larut dalam kesedihan. Selamat malam.

You May Also Like

0 komentar

Haloooo! Terimakasih udah menyempatkan waktu untuk membaca. Jangan lupa tinggalkan komentar ya! :D