Hikmah

by - 3:52:00 PM

Hari itu, seperti biasa lembur di malam hari mengerjakan UAS (Ujian Akhir Semester) secara online. Sebenarnya soal itu telah diunggah 2 minggu yang lalu. Hingga tengah malam, akhirnya saya pending karena kantuk yang teramat, padahal hanya dapat menyelesesaikan 2 nomor. Di pagi hari kemudian, dilanjutkanlah jawaban tersebut dan akhirnya selesai sudah, tinggal membubuhkan nama; nim; dan nama dosen. Karena saya tidak menghafal betul gelar beliau, dicarilah sebuah dompet yang isinya terdapat kartu ujian saya. Cari cari dan cari, hasilnya nihil. Waktu telah menunjukan pukul 06.30 saat itu, dimana saya harus bersiap berangkat karena ujian dimulai pukul 07.30. Dan keadaan berubah menjadi kacau. Jawaban ujian belum di print, kartu ujian hilang entah kemana, dan suasana rumah yang lumayan panas. Sambil mengingat-ingat apa yang dilakukan di hari sebelumnya, waktu telah menunjukan 06.45 dimana saya hanya punya waktu 30 menit untuk perjalanan. Kacau sekali. Segeralah saya mengunggah hasil jawaban saya ke email karena tepat pada saat itu flashdisk tidak ditemukan.

Melalui dzikir dan shalawat, akhirnya saya berfikir, apa yang telah saya lakukan di hari kemarin? Hingga saya di uji dengan ujian yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Sampai di sebuah rental, dibukalah email yang tadi pagi terkirimkan. Menunggu loading agak lama, waktu itu pukul 07.20. Opened! Ternyata file itu adalah file tadi malam. Yang semalam saya hanya jawab 2 nomor saja, yang sisanya masih banyak yang kosong. Kacau sekali hari ini. Berulang kali saya cek dan hasilnya nihil. Oke kali ini saya mencoba tenang, setenang jam yang sedari tadi terus berjalan, mencoba menemukan solusi dari masalah yang lain. Fine, kertas jawaban belum ada, masalah selajutnya adalah kartu ujian. Dengan tanpa kartu ujian, apakah bisa mengikuti ujian tersebut? Secepat mungkin ku kirimkan pesan kepada kakak tingkat tentang kartu ujian yang hilang. Semoga itu menenangkan. 

Di perjalanan menuju kampus, saya mulai berfikir lagi, mengingat dulu ketika SMA yang dengan mudahnya meminta kartu pengganti, dengan mudahnya susulan ketika berhalangan, dengan mudahnya ijin karena belum siap ujian. Dan mendadak saya berhenti di pinggir Widya Puraya. Mencari gadget dan mengetikkan sesuatu di google, “kartu ujian uas hilang” “susulan uas di feb”, dan apapun itu yang dapat menenangkan. Kali ini jujur, saya memang pura-pura tenang. Ada niatan dan beberapa hal yang bikin takut untuk datang UAS hari ini, pikiran untuk membolos pun berhembus juga. Apa iya saya harus balik ke rumah mengambil file lalu mengumpulkan kepada dosen tersebut? Apa iya saya harus ikut susulan?  Apa iya saya minta tolong Mama untuk mencari filenya, ngeprint, dan mengantar ke kampus? Ah mana mungkin…mana mungkin Mama tau caranya. Tapi kalau saya minta tolong Mama, yang ada malah saya dimarahin. Padahal tadi pagi udah dimarahin. Bingung. Kacau.“Tapi…ah udahlah ga usah manja, hadapi yang ada di depan sekarang juga! Ga mau tau apa nanti jadinya!” tekad saya waktu itu. Agak alay ya, tapi dari pikiran itu yang membuat untuk melanjutkan perjalanan.

Saya memarkirkan motor di depan dekanat. Waktu menunjukan pukul 07.25, saya datang menemui siapa saya yang berada di dalam gedung menyeramkan itu. Terjadi pembicaraan hangat, dan..seram. Saya bilang bahwa kartu ujian hilang. Saya pikir akan semudah itu untuk mendapatkan kartu pengganti, tapi tidak. Harus mendapatkan surat kehilangan kartu ke polisi dulu lah, ke dekanat lagi, menyerahkan kartu mahasiswa, dan bebagai prosedur yang benar-benar diluar kepala. Inikah yang namanya kuliah? Dengan waktu 5 menit untuk mendapatkan surat polisi, apakah mungkin semudah itu? Saya keluhkan kepada bapak tersebut. Bapak tersebut akhirnya bilang, “Nanti kamu pakai kartu flash atau kartu mahasiswa saja, serahkan kepada petugas. Nanti baru bisa diambi kalau ada surat kehilangan kartu ujian.”

Kali ini saya cukup berlega dan bersyukur. Saya bisa ikut ujian, meski nanti harus pusing berfikir gimana caranya mendapatkan kartu kehilangan dari polisi. Saya mencoba tenang, untuk kesekian kalinya. Berjalan lemas menuju kelas, tanpa lembar jawaban yang harusnya ada di tangan. Mencoba memahami buku yang belum terbaca semuanya, dan nihil. Pengen nangis, tapi apa iya harus sekarang? Ujian pun di mulai. Semua anak mengumpulkan printout lembar jawaban. Saya yang sedari tadi memegang kartu gemetar selalu memantau apa yang akan dilakukan pengawas. Pengawas itu menghitung printout tersebut. “Ini kurang satu lagi, siapa yang belum mengumpulkan?” tanya pengawas. Itu saya.

Menunggu beberapa detik,  akhirnya saya angkat tangan. Berdiri, dan menjelaskan tentang hal tersebut, termasuk kartu ujian. Sedikit gemetar. Bapaknya mengerti. Kartu saya diambil, dan kebetulan teman saya juga ada yang lupa membawa kartu. Jadi, apabila memang benar-benar disuruh untuk mencari kartu kehilangan, setidaknya saya punya teman. Allah Maha Baik, setiap saat. Saya masih bisa mengikuti ujian. Dan sekarang masalah yang belum selesai, lembar jawaban.

Ujian pengantar bisnis di hari itu cukup dimudahkan, oleh yang di Atas. Dimudahkan dalam membaca soalnya, dimudahkan dalam merangkai kata penuh basa basi nya hingga akhirnya saya hanya bisa menjawab 2 lembar. Padahal teman-teman yang lain bisa sampai 4. Dan tiba-tiba pengawas pun mengembalikan kartu saya. Beliau tidak menyitanya. Allah memang Maha Baik. Dengan begini masalah yang belum selesai adalah printout lembar jawaban. Sisa waktu ujian tinggal 30 menit lagi dan semua orang belum keluar kelas. Dan tepat pada saat itu, akhirnya saya memutuskan untuk keluar. Keluar dari kampus, dan mencari rental. Sebelumnya saya ijin kepada pengawas untuk ngeprint lembar jawaban, dan alhamdulillah diijinkan. Mana parkiran dan kelas agak jauh pula. Akhirnya saya lari, agak ngebut, dan berdoa, agar tidak jatuh naik motor. Setelah sampai rental saya ngetik secepat kilat. Dan waktu menunjukan 09.25 dimana saya hanya punya waktu 5 menit untuk kembali ke kelas. Sembari menunggu hasil, saya meminta tolong kepada teman untuk mengamankan pengawas tersebut. Mengamankan dengan cara apapun, jangan sampai pengawas tersebut tlah mengumpulkan lembar jawaban ke dekanat. Dan fiolaaa! Selesai sudah. Secepat mungkin saya menuju ke kampus. Sedikit macet, parah. Lalu lari menuju kelas, mengintip dari balik jendela dan…kelas sudah kosong. Dengan berfikir secepat kilat (eciye kilat) lalu saya menuju ke dekanat. Untuk menuju ke dekanat, kita harus melewati perpustakaan. Dan ternyata…….pengawasnya sudah menunggu sangat sabar, menanti lembar jawaban yang belum dikumpulkan. Eciye setia banget. Alhamdulillah, semuanya done. Saya mengucap terimakasih banyak kepada bapaknya hingga pengen sujud syukur saat itu juga. Aaaaaaaah Allah superdupermega Maha Baik! Akhirnya saya menuju ke depan pintu kelas. Meletakan semua barang dan menitipkan ke teman-teman. Semua bertanya, “ada apa kamu hari ini?” dan saya meninggalkan mereka ke kamar mandi, untuk menangis.


.
.
.
 
Ada banyak pesan dan hikmah yang datang di setiap kehidupan kita, dimana itu adalah sebuah pembelajaran. Tergantung dari masing-masing individu, apakah mau menerima atau mengabaikan pesan tersebut. Selamat mendapat hikmah!

You May Also Like

2 komentar

Haloooo! Terimakasih udah menyempatkan waktu untuk membaca. Jangan lupa tinggalkan komentar ya! :D