Travelling Abal ke Jogja

by - 2:31:00 PM

Latepost sih, tapi nggak papa kan ya. Oke, selamat datang di minggu tenang, minggu yang semoga menenangkan, minggu dimana ada seseorang yang menggebu-gebu untuk belajar tapi semoga itu semua tak hanya wacana. Ngomong-ngomong tentang liburan, jadi inget postingan ke Jogja yang belum sempat ke-post. Then, here we go...

Berawal dari rencana kami yang telah kami susun sedemikian rupa sejak kelas 10 yang selalu gagal hingga kami menginjakan kaki di dunia perkuliahan. Dimulai di kelas 10, saya dan teman-teman mulai membayangkan apa yang akan kami lakukan ketika liburan dan pasti kalian tau hasilnya apa? Nihil. Hingga berada di penghujung kelas 12, semua anak mulai menyusun masa depan masing-masing. Mereka saling belajar dan mengejar apa yang mereka inginkan. Mereka saling menyibukan diri dan melupakan yang namanya bersenang-senang.

Perjalanan kita berawal dari Silka yang tiba-tiba nge-line saya. Membahas sesuatu hingga akhirnya menyerempet ke persoalan liburan. Kita bingung antara liburan ke Jogja atau ke Bandung, dan kami sama-sama belum pernah melakukan mbolang tanpa orangtua. Karena Bandung keliatannya lebih menarik, akhirnya kami bagi tugas untuk cari informasi tentang Bandung. Dari berbagai informasi yang ada, akhirnya salah satu sahabat saya bilang, "Bandung itu luas Tak. Bakal susah kalau kamu baru pertama kali datang ke kota itu." Lalu akhirnya kami simpulkan, "Bye Bandung! Next time ya."

Dari Bandung, kami beralih ke Jogja. Dan ternyata, kami punya banyak masalah (haha apa banget dah). Mulai dari transportasi, tempat menginap, tujuan wisata. Jadi ternyata kalau kita ingin berpergian banyak yang harus di urus, terutama hal yang udah saya sebutkan barusan. Ngga kayak pergi sama keluarga, semuanya di urus sama Mama.

Saya bilang ke orangtua sekitar H-1 hari, di sore hari, dimana saya sudah membeli tiket. Dengan pertimbangan yang sangat panas dan panjang....alhamdulillah diijinkan.

Kami nggak ngerti apapun tentang Jogja, karena setiap kami ke Jogja, kami hanya tidur dan tiba-tiba sampailah kami ke kota ini. Payah. Untungnya Hudy juga ikut, selain untuk memenuhi tugas ospeknya, dia juga menemani Silka. Its so lucu sekali. Jadi, kami ke Jogja naik Joglo Semar, shelter Pemuda dengan harga 75.000/orang. Jam keberangkatan Joglo Semar selalu ada di tiap jam nya. Kami berangkat jam 07.00 dan sampai Jogja jam 11.30. Begitu kita sampai ke Jogja, Hudy pergi dengan menggunakan taxi ke kosan Imbot, lalu saya dan Silka hanya sebatang kara di kota orang. Kita ishoma bentar, sampai akhirnya kita bertemu dengan mas-mas rental motor. Sebelumnya, kami memang telah memesan motor untuk 2 hari. Kalau tidak salah sekitar 60.000/hari (24 jam). Motornya akan diantar serta dijemput dan kalian akan mendapat fasilitas 2 helm dan jas hujan. Karena kita adalah amateur backpaker, kita juga agak takut bertemu, janjian, mesen-mesen dengan orang asing di kota yang asing pula. Dengan mengucap basmalah, akhirnya kita menyerahkan kartu identitas sebanyak tiga (bisa kartu pelajar, sim, ktp). Akhirnya, jalan-jalanlah kitaaaa!

Tujuan pertama yaitu ke kosan Imbot, karena hanya itulah kita tau arahnya. Jalanan Jogja agak membingungkan, beda dengan Semarang. Kalau di Jogja, jalan antar mobil dan motor dipisah sehingga lalu lintas lebih lancar dan rapi. Dengan kesoktahuan yang membumbung tinggi, kita salah jalan haha. Setelah bertanya, akhirnya kita menyusuri jalan dan kelelahan, lalu kita putuskan untuk makan di Padang Murah. Setelah makan, akhirnya kita nggak jadi mampir ke kosan Imbot dan langsung aja kita muter-muter dulu. Sewaktu di jalan, kita melihat palang UGM, lalu kita menuju kesana dan berhenti di Rumah Sakitnya. Duduk sebentar menikmati jalanan, sambil melihat peta. Karena kita belum sholat ashar, akhirnya kita masuk ke Rumah Sakit untuk bertanya dimana musholanya. Dan...tidak ketemu. Syem pun nelfon, lalu kita turun menemui mereka. Ternyata kos syem dan rumah sakit nggak begitu jauh. Kita duduk, sholat, cerita. Dhea dan Fita dateng yehee makin rame. Berhubung mereka sibuk ospek. Akhirnya kita jalan-jalan cuma bertiga.
Jalanan di depan rumah sakit
"menyusun strategi"
Kata orang nih, kalo belum ke Malioboro namanya belum nikmatin Jogja. Habis markirin motor, kita jalan ke arah Tugu, karena kita belum pernah ke Tugu Jogja :’). Di perjalanan menuju Tugu, selalu ada angkringan di sepanjang jalan, jadi mereka makan sambil menikmati jalanan Jogja. Dan ternyata, perjalanan dari Malioboro menuju ke Tugu cukup panjang haha akhirnya kita makan di angkringan yang kami temui. Selanjutnya kami pulang.
Tugu Jogja!



Besoknya, kita mau pergi berempat. Saya, Silka, Firda, dan Syem. Dengan berbagai kendala, salah satunya adalah tugas ospeknya Firda yang belum selesai akhirnya kami membantu dia untuk membuat essay. Sebelum pergi, kita sarapan dulu dan ketemuan sama Bundoooo! Sayangnya Bundo nggak bisa ikut, soalnya doi mau foto angkatan. Yaudah, perjalanan kita selanjutnya adalah Museum! Sewaktu perjalanan menuju Museum, saya dan Silka salah jalan, akhirnya kita harus muter jauh dulu baru ke Museumnya. Museum yang kita tuju adalah Museum Afendi. Jadi, Pak Afendi ini adalah seorang seniman, hobi beliau suka melukis. Dari mulai lukisan, patung, baju beliau, hingga sendal beliau disimpan dan dipamerkan di dalam museum itu. Tiket masuknya 10.000/orang. Apabila kalian membawa kamera akan dikenakan biaya. Seingat saya, kamera handphone 20.000/kamera dan kamera digital/slr 50.000/kamera.
 Secuil kamar Firda yang berantakan
 Ketemu sama Bundoooo!


 Banyak Bekerja Supaya Panjang Umur ^^

Foto ini diambil ketika kita nggak tau kalau bawa kamera akan dikenakan charge hehe, jadi kita cuma pake handphone nya Silka.
Setelah ke Museum kita ke Taman Pintar. Terdengar biasa ya, soalnya semua orang pernah kesini terkecuali saya dan Silka haha. Di Taman Pintar ada banyak wahana permainan, jadi ketika kalian masuk tiket masuknya akan beda di tiap wahananya. Karena keterbatasan waktu, kita hanya ke Planetorium aja. Selanjutnya  kami ke Museum Vredeburg.



Dengan tiket 2.000/orang kami bisa masuk di Museum Vredeburg! Disini banyak bangunan peninggalan Belanda (yaiyalah), seperti di Lawang Sewu, Semarang. 




Berhubung Firda dijenguk oleh Mumnya, akhirnya kita jalan-jalan bertiga. Dan berhubung ada beberapa kendala yang menyebabkan kita hanya akan pergi berdua, akhirnya kita tetap pergi bertiga. Jalan-jalan kali ini kita ditemani oleh Syem ke Taman Pelangi. Jadi awal mulanya, saya ngelihat taman yang penuh dengan lampion saat kita perjalanan ke kos Imbot. And taraaa jadilah kita kesini. Malam di Jogja itu sendu-sendu syahdu, dinginnya bikin rindu, tapi nggak tau rindunya ke siapa. Haha. 



 With Silka, partner travelller abal.
Keesokan harinya, waktunya kami pulang. Awalnya kami memang punya banyak rencana, dari mulai dari Jogja bakal ke Solo dan naik bis wisatanya Solo lah, ke Solo naik kereta lah, dan hal-hal imajinasi lainnya yang ternyata memang hanya sekedar wacana. Antara berani dan takut, kami memilih untuk membatalkan rencana ekstrim itu karena kami sadar bahwa kami cuma traveller abal. Di perjalanan pulang, Silka cerita kalau awalnya dia juga tidak diijinkan, berkat seorang bunda yang iba kepada anak perempuannya akhirnya ya..yaudah. Hahaha parah. Yang paling penting dari sebuah perjalanan adalah sebuah restu dari orangtua, terutama ibunda. Kalo untuk pemandangan, oleh-oleh, dan foto anggap saja itu bonus. Semoga bermanfaat!

You May Also Like

0 komentar

Haloooo! Terimakasih udah menyempatkan waktu untuk membaca. Jangan lupa tinggalkan komentar ya! :D