8jam Solo

by - 12:23:00 PM

Di pagi menjelang siang setelah ujian olahraga, seperti biasa kami berkumpul di dalam sebuah warung yang teduh menentramkan, yang menjual berbagai makanan berjajar rapi di sudut lemarinya. Gondang margondang kesayangan. Duduk lalu bercerita. Tentang rencana libur di pertengahan UTS diantara hari Selasa hingga Kamis. “Kita mau ke Jogja, berangkatnya Senin habis UTS.”, katanya. Terdengar mengasyikan. Dan tiba-tiba terbesit ide, “Bagaimana kalau kita ke Solo? Tapi berdua aja, diem-diem.”, tawar ku kepada seorang teman. “Hmm boleh.”, tanggapnya.

Ku coba untuk selalu memendam segalanya. Termasuk rencana dalam berpergian, apalagi keluar kota. Karena usut punya usut berdasarkan pada pengalaman sebelumnya, ketika seseorang menceritakan suatu rencana berpergian kepada orangtuanya, pasti keeseokan rencana tersebut tak dapat terwujud. Dan seseorang itu adalah saya. Ketika saya menceritakan kesimpulan atas “gagalnya segala acara mbolang” kepada Ayah, beliau malah marah-marah. Katanya, itu adalah kepercayaan yang tak perlu dipercayai. Jelas, haha.

Namun kesimpulan yang pernah saya buat itu memang tidak benar dan salah besar. Buktinya, liburan kemarin berhasil pergi ke Jogja, meskipun bilangnya di H-1 keberangkatan. Dengan pengalaman yang telah dibuat pada sebelumnya, akhirnya saya beranikan diri untuk bercerita mengenai kepergian ke Solo. Seperti biasa Mama menanggapi, “Kita lihat saja nanti.” Dan dilanjutkan dengan, “Nanti bilang Ayah dulu.” Tiba-tiba aroma ketidak ridho-an pun terkuak...

Line pun masuk. Teman saya bilang bahwa temannya yang berada di Solo akan pulang ke Jakarta, dan otomatis tidak ada yang akan mengajak kami jalan-jalan, dan otomatis rencana itu...gagal. Saya pun gemas. Kenapa? Kenapa ada aja halangan. Guru ngaji pun datang. Dengan mata berkaca, saya coba untuk mengeluarkan apa yang mengganjal. Kenapa? Kenapa harus gini, Tuhan? Lalu, Mama yang baru keluar dari kamar bersiap untuk pergi arisan berpamitan kepada anaknya. “Mah, aku nggak jadi ke Solo.”, kataku, dengan sedih, pasti. Dan beliau menanggapi, “Alhamdulillah ya Allah anakku nggak jadi pergi.”, dengan muka berbinar, pastinya.

Because Allah would never put you in a situation you couldn’t hadle it, dan saya tau pasti akan ada rencana Allah yang lebih indah. Entah kapan. Dengan muka memendam kesal, berakhirlah rencana itu.

Di hari Senin. Seusai UTS, kami mencoba survey untuk menentukan dimana kami akan melakukan libur cuma-cuma. Kami mencoba untuk pergi ke daerah Gunungpati unuk melihat suatu tempat, berdirilah gazebo disana. Suasana dan suhu tak mendukung, kali ini Semarang lebih panas. Kami pun terpaku dan diam. Berandai-andai atas berbagai macam tempat yang akan kita pijak suatu saat nanti, membicarakan kedekatan antara Semarang dan Solo, dan bimbang atas kesuwungan pada saat itu. “Yaudah yok ke Solo sekarang, deket kok.”, celetuk seorang teman.

Adzan dzuhur berkumandang. Sambil berjalan, sambil mencari masjid. Niatnya sih sekalian mencari masjid yang dekat dengan supermarket tapi kami tak berpapasan. Cukup sedih. Lebih sedih lagi bila kita mengundur-undur dzuhur dan tiba-tiba kami memasuki jalan tol yang salah. Tuhan pun memperingatkan.

Here we go di peristirahatan pertama, di sebuah mushola yang berada pada tol, akhirnya saya menelfon Ibunda, memohon restu atas keberangkatan ini, and finally..., “Oalah jadi ke Solo? Hati-hati di jalan jangan lupa berdoa, ni Mama lagi belanja di Ada.” Dan bagian inilah yang bikin cinta saya semakin meluap, alhamdulillah ya Allah :').

Kami berenam, sekumpulan para perempuan yang tidak tau jalan menuju Solo (karena setiap perjalanan kami semua tertidur, dan itu kesalahan), akhirnya kami beranikan diri untuk mengikuti papan penunjuk arah. Kami nyetir bergantian dibumbui beberapa kepanikan. Salah satunya adalah saat kami bingung dan tak tau arah mana yang benar, dan tibalah kami memasuki jalanan dimana jalanan tersebut tidak boleh dilalui oleh mobil. Awalnya biasa saja, tapi ada seorang pengendara motor yang memperingatkan. Dengan keraguan yang tinggi akhirnya kami beranikan untuk putar arah. Saat perjalanan, “Tak ada polisi Tak!” kami semua panik. Dan ternyata, polisi itu menilang sebuah mobil yang melewati jalan yang kita lalui tadi. “Mungkin mobil itu ngikutin kita gara-gara kita lewat ke jalan ini.” dan lagi-lagi Allah selalu punya kejutan, alhamdulillah ya Allah :').

Mungkin kami lelah. Teman-teman memang belum makan dari siang, dan jauh-jauh ke Solo cuma buat makan itu keterlaluan. Akhirnya kami pergi ke Pasar Klewer, yang kata Mama saya ada tengkleng yang enak banget. Sewaktu udah nyampe dan turun, ternyata tengklengnya abis. Sedih. Akhirnya kami pergi lagi dan cari makan, makan apa aja, yang penting murah haha. Sampai di penghujung waktu Ashar, kami menemukan warung lesehan seafood yang sepertinya enak. Lalu kami turun dan melihat daftar harga, ternyata.....mahal. Lalu kita bingung gimana caranya kabur, soalnya harga memang tak sesuai. Lalu saya sok-sok nyeletuk ditambah beberapa kedipan, "Duh mau maghrib, gimana kalo kita sholat dulu aja?". Dan teman-teman yang lain menanggapi, "Yaudah yok yok." Fiolaaa kita pergi dari warung tersebut hahaha. Selanjutnya kita mampir dari warung kesatu ke warung yang lain, dan alhamdulillah kita dapet warung yang kita inginkan. Dan alhamdulillah lagi, di depan warung tersebut ada masjid, jadi kita memang nggak sepenuhnya bohong, kan? Dan alhamdulillah lagi, teman-teman makan disaat yang shaum berbuka. Padahal niatan awal waktu otw berangkat pengen batalin aja hehe parah. Allah memang Maha Baik. 

Lalu kita pulang pukul 19.30, dengan perjalanan 1,5 jam kami sampai di Tembalang dan bersiap turun ke bawah menikmati anginnya malam. Lagi-lagi untuk segala syukur yang tak pernah habis, alhamdulillah yaAllah :')






You May Also Like

0 komentar

Haloooo! Terimakasih udah menyempatkan waktu untuk membaca. Jangan lupa tinggalkan komentar ya! :D