Gilar dan Ragil

by - 9:43:00 PM

Tubuh mungilnya merintih. Kulitnya yang kecoklatan berubah menjadi pucat. Semua orang panik, terutama perempuan itu. Seseorang yang sedari awal selalu menggerakan bibirnya, mengeluarkan suara dengan lirih dan perlahan, meminta sebuah permintaan agar dikabulkanNya. Hingga suara burung gagak pun terdengar masuk ke dalam gendang telinganya. Dan tamatlah sudah, selamat tinggal.


Semua perandaian itu selalu dirangkai. Andai saja kalau.. andai saja jika.. Hingga akhirnya kita sadar bahwa inilah titik yang harus diikhlaskan. 


Punya kakak laki-laki sepertinya mengasyikan. Kita bisa bertukar cerita, bertukar pikiran, mencoba pengalaman yang menyenangkan, bisa diantar kemana saja, berjalan beriringan berdua, bertengkar kecil tiada habisnya. Semua perandaian itu kosong. Buat apa berandai kalau orang yang dibicarakan sedang pergi? Pergi menuju perjalanan panjangnya, bersama para malaikat kecil lainnya, bersiap menunggu hingga sangkakala dibunyikan.


Rencana Tuhan selalu sempurna. Meski Gilar terpanggil olehNya, perempuan itu selalu memanjatkan doa, bercerita, mengadu beberapa tema, hanya untuk kepadaNya. Hingga saat yang dinanti pun tiba. Tibalah dia, Ragil. Yang semoga menjadi pelipur kedua orangtuanya.


Selamat bulan Oktober. Meskipun beda umur, beda dunia, dan beda nama, tapi mereka punya satu kesamaan, satu saudara.

You May Also Like

1 komentar

Haloooo! Terimakasih udah menyempatkan waktu untuk membaca. Jangan lupa tinggalkan komentar ya! :D