Untitled

by - 12:53:00 PM

Seorang anak laki-laki telah selesai melakukan sholat maghribnya, dia pun berdoa. Sama seperti yang dilakukan di setiap sholatnya, memanjatkan doa dan ungkapan yang ingin disampaikan untuk kepadaNya. Begitupun denganku. Dengan mata terpejam, aku mendengar suatu lembaran kertas yang dibuka oleh seseorang. Aku yang penasaran, kubuka mataku perlahan. Dengan mulut yang masih mengkomat-kamitkan suatu mantra, ku intip siapakah yang membuka lembaran kertas tersebut seusai sholat jama’ah waktu itu. Tumben banget, pikirku. 

“Yuk ngaji”, katanya dengan berbinar-binar. Aku yang merasa doaku memang belum rampung, sengajalah kupersingkat curhatku kepadaNya, demi seseorang yang berbinar itu. Kita pun membaca surah Al-fatihah dan mulailah kita mengaji. Aku yang merasa grogi, karena memang pertama kalinya dia memintaku untuk mengajarinya membaca buku terbaik di dunia ini, beruntung akan hal itu. Seusai membaca, dia pun pergi menyopot sarungnya dan meninggalkanku. Aku terdiam, entah apa yang ingin disampaikan Tuhan saat itu. 

Keesokan harinya, di waktu yang sama, seusai maghrib. Aku yang memang masih bercerita suatu rahasia kepadaNya mendengar suatu suara yang sama di hari kemarin. Aku rampungkan doaku itu, dan bersegeralah aku mendekatinya, lalu kita menyimak kitab itu bersama. 

“Sodaqallahul’adlim..”, kata kita bersama. Aku yang saat itu ingin bergantian membaca tiba-tiba dia mengangkat kitab itu. Aku pikir untuk ditaruh ke tempat semula, padahal kan aku ingin juga membacanya. Namun, taukah kamu apa yang terjadi? Dia menciumnya lalu tersenyum menghadapku, seperti yang kulakukan setelah membacanya. Aku yang memang menunggu kitab itu terkejut,....lalu tersenyum.

Semua pesan dari Allah memang selalu sempurna. Aku yang saat itu terkejut, ingin saja mengeluarkan bulir-bulir air mata. Karena apa? Karena hal itu adalah hal termanis yang pernah ada. Namun dibalik itu semua, Tuhan menyadarkan suatu pembelajaran bahwa jangan sampai kau mengundur-undur untuk membaca ulang hukum tajwid, karena disana ada yang menunggumu untuk mengajarinya. Serius. Entah itu saudaramu, anakmu, suamimu, istrimu, bahkan ayahmu sendiri.

You May Also Like

1 komentar

Haloooo! Terimakasih udah menyempatkan waktu untuk membaca. Jangan lupa tinggalkan komentar ya! :D