Destiny

by - 8:22:00 AM

Kali keduanya saya meminjam buku di perpustakaan rubah. Padahal buku pertama saja belum dikembalikan. Entah apa yang membuat buku ini menarik perhatian ketika saya mengamati puluhan buku yang tertata rapi di rak. Aahh, semuanya indah. Aneh memang bila seorang anak hanya menyukai puluhan rak buku dengan arsitektur dan tatanan yang rapi di sebuah perpustakaan atau toko buku. Mondar-mandir dari satu rak ke rak yang lain. Mencium aroma buku yang selalu melekat ditiap halamannya. Semua terlihat menyegarkan. Hiperbola ya? Gapapa, sekali-kali.

9 matahari. Secara kebetulan, atau memang ini takdir Tuhan? Takdir bahwa aku harus membaca buku ini. Membukanya pun membuatku mengantuk, apalagi membacanya? 

Perkenalkan saja, dia seorang mahasiswa baru, Tari namanya. Kehidupannya cukup sederhana, hingga kesederhanaannya membuat keluarganya enggan untuk mendukung Tari melanjutkan sekolah, ke sebuah perguruan tinggi. Kuliah masih menjadi barang mewah. Hingga penantiannya selama 2 tahun terbayar sudah, dia diterima sbg mahasiswi universitas negeri. Namun sayang, Kakaknya tak setuju, ibunya pun demikian, apalagi bapaknya, bisa2 ngamuk beliau. Lagi2 tentang apa? Yup! Kakaknya yang lulus dengan predikat cumlaude namun sulit mendapatkan pekerjaan, cap "sarjana tak selalu sukses" sudah tertanam di pikiran bapaknya. Dan selanjutnya tentang apa? Yup! Dana. Dengan bujukan maut Tari, kakaknya pun mencoba membantunya, dengan meminjamkan uang ke teman dan sanak saudaranya meskipun sangat supermega minim.Tari berangkat ke kota perantauan, dan berpesan kepada ibunya bahwa tolong beritahukan hal ini kepada bapak.

Semester demi semester dia lewati, hingga dia merasakan kehidupannya menukik tajam. Dia hidup dari uang siapa? Makan pakai uang siapa? Padahal kiriman uang tak selalu ada. Yah sesekali kakaknya mengirimkan seratus lima puluh ribu. Namun ia tak mau pulang hanya untuk menampakkan kesulitannya, terlebih kepada bapaknya yang selalu saja marah. Marah mengenai kuliah. "Buat apa kamu sekolah mahal2 dan lama? Kenapa ngga kamu kerja di pabrik depan rumah, kalau perlu bapak antar kesana sekarang" pikir beliau.

Disaat teman2nya kagum, heran pada mahasiswi yg bekerja sambil kuliah, Tari malah merasakan kepedihan. Pedih karena pikiran harus terbagi dua, pedih karena gaji yang ia dapatkan belum mencukupi, pedih karena dia lelah menanggung beban pikiran, pedih menanggung hutang, serba masalah dan masalah.

Namun dari sebuah perjalanan panjangnya, hingga ia berhenti di suatu titik jenuh, dimana dia hanya bisa menyalahkan keadaan. Menyalahkan nasib yang selalu diterimanya. Hingga akhirnya tersadar bahwa ia saja selalu mengeluh tanpa memperbaiki hubungan denganNya, selalu menantangNya, sadar bahwa Dia ingin lebih dekat dengan Tari. Mengirimkan beberapa ujian, agar Tari selalu dekat denganNya. 

Berkat usaha, doa, syukur, Tari pun berhasil lulus kuliah. Berhasil merubah nasib, mensejahterakan keluarganya. Because the things always happens that you really believe in, and the belief in a thing make it happen.


--
Jadi teringat tentang rencana kuliah merantau. Bukan karena adik mau khitan lho ya sehingga saya takut untuk tidur sendirian, sejujurnya bukan itu, serius. Ya karena pengen aja dapet ilmu baru, orang baru, suasana baru, belajar jauh dari sebuah kemanjaan, merasakan tantangan hidup, mengerti gimana rasanya dirindukan, bahkan menikmati rasanya pulang kampung. Karena impian yang begitu tinggi, tiba-tiba saya disadarkan oleh adik saya, "Kamu masuk ips buat apa sih mbak? Biar nyari kuliahnya gampang kan?" Dan saya tersadarkan. Memang iya salah satu alasan saya masuk di jurusan sosial memang itu. Maafkan pendapat tersebut. Tapi dibalik semua itu.. masih ada aja rasa seperti, "Kok saya ngga berani nyoba buat masuk ke univ itu ya?" Dasar mental tempe :")


Rasa ingin, imajinasi, semua khayalan itu tentunya masih ada. "Coba aja kalau blabla, coba aja kalau blabla, coba aja kalau blablabla. So many blablablah." Semua penyesalan itu memang ngga ada habisnya, hingga memunculkan sebuah rasa yang bernama pesimisme. Tapi, apa iya kita terus-terusan menyesal akan sebuah pilihan dan takdir dari Tuhan? Apa kamu mau protes atas apa yang udah terjadi kepada Sang Pembuat Skenario Terbaik? Yang ada malah skenario hidupmu ditambah makin sulit. Masih untung diberi rejeki, diberi orang tua yang mendukung kita untuk melanjutkan kuliah, dan yang paling penting nih : Masih untung diberi nafas. 


Yang selalu diingat dalam hidup: Jangan suka melihat keatas, karena iri hati tak akan ada habisnya. Coba yuk kita sering melihat kebawah, menyadari bahwa kita adalah salah satu mahluk beruntung. Banyak-banyaklah bersyukur, nak.

You May Also Like

0 komentar

Haloooo! Terimakasih udah menyempatkan waktu untuk membaca. Jangan lupa tinggalkan komentar ya! :D