Cirebon

by - 9:14:00 PM

Assalamualaikum, halo, hao, moshi-moshi! Tepat pada hari Jumat, 27 Desember-Senin, 30 Desember 2013 saya berkunjung ke rumah Om saya, namanya Om Bun. Om Bun ini adalah anak ke 8 dari 9 bersaudara dari keluarga mama. Kayaknya cuman Om saya yang tinggalnya di tanah Sunda, Cirebon. Ya meskipun bukan tengah kota, tetep aja Sunda hehe. Saya pergi bersama Gatrin, adek saya. Dan ini adalah pertama kalinya saya pergi tanpa orang tua yey. 

Aaaa seneng banget alhamdulillah bisa ngerasain namanya naik kereta. Kereta kali ini berangkat pada pukul 8 dan sampai pada pukul 11.45. Berhubung pergi tanpa orang tua, kata Ibu saya pokoknya jangan bicara sama orang asing, natap mata orang asing, dll yang bikin kita menyepelekan hal kecil. 
Taraaaa! Makan nasi goreng di kereta! Saya baru tau kalau di kereta bayar makannya nunggu habis dulu, jadi ada selang waktu lamaaa banget baru mereka nagih kita. Dan itu merupakan sebuah kesalahan. Jadi, pelayannya mulai narikin uang dari pembelian sarapan. Mereka mengawali dari depan. Dikirain, pelayannya berjalan menuju kursi kami. Lalu kami segera menyiapkan uang yang akan dibayar, ternyata pelayan itu pergi entah kemana. Setelah itu saya tidur. Hahaha habis makan tidur. Sewaktu tiba di Stasiun Cirebon, saya tanya ke adek tentang harga nasi goreng tersebut. Adek saya bilang, "Oh iya mbak, lupa dibayar ik." Oh God.. Lalu dia melanjutkan, "Lha tadi waktu masnya pergi kirain bakal balik lagi, ternyata nggak balik. Yaudah aku baru inget waktu disini."
 Hellooo Minion and Train!
 Paling asik kalau lagi naik kendaraan selalu lihat samping. Selalu ada hal unik, termasuk segala ciptaan dari Sang Maha Kuasa :))



 Katanya, Cirebon dikenal dengan Nasi Jamblang-nya. Saya kira nasi jamblang itu semacam lauk atau ikan yang memang namanya Jamblang, tapi ternyata Nasi Jamblang artinya kayak makan ala desa gitu, sederhana, makan pake beralas daun, murah, dan beneran enak.


 Ceritanya lagi jadi anak gaul Cirebon di malam pertama. Disini suasananya sepi, mall yang bagusnya kayak gitu aja sepi. Sepi banget. Apalagi keluarganya Om Bun jarang ke mall, jadi cukup exited waktu didatengin sama keponakannya, apalagi diajakin ke mall. 


 Cirebon juga dikenal sama kolam renangnya. Kolam renang yang ini mempunyai 3 kolam. Ada air panas, air anget, air dingin yang lumayan dalem. Kata Tante saya, kolam ini nggak pake kaporit jadi dari gunung asli. Keren gilaaa. Tangan nggak ada kerutan sama sekali. Dan kerennya lagi, sepupu saya yang bernama Tiara bisa renang, padahal dia baru 2 tahun. Ya cuman baru ngapung-ngapung gitu sih, soalny apake pelampung hehe.
Kolam Hiu.

 Kata orang, ini namanya Ikan Jaket.

 Keadaan Pasar Ikan.

 Ada bapak-bapak yang suka ngasah pisau!





 Nah ini, tempat yang saya tinggali sebenarnya bukan di tengah kota melainkan di Kabupaten Cirebon. Jadi, kabupaten ini terletak di bawah kaki gunung gitu, keadaannya masih dingin. Dan katanya lagi, rumah Om saya dekat dengan Gunung Ciremai (Gunung tertinggi di Jawa Barat). Awalnya saya kira nggak mungkin, tapi setelah di search ternyata beneran. Hahaha Cirebon emang keren abis. 



 Kue serabi, katanya kue ini juga makanan khas tradisional dari Jawa Barat. Setau saya, serabi biasanya kan pake pisang, coklat, santen, tapi ternyata serabi ini pake telur. Keren deh, kayak mau nyaingin leker.
 Good Morning *yawn*
Keraton Kasepuhan Cirebon.

 Kata yang mandu, disini pernah dipake sebagai tempat uji nyali. Disana ada gudang, tapi nggak dipake lagi.



 Om Bun bersama istri dan kurcacinya


 Menu makanan pada perjalanan pulang kali ini lebih berwarna, lebih dari sekedar nasi goreng yang alhamdulillah.........gratis. Kita berdua mau sama-sama pesen bakso, berhubung menu "bistik" lebih menarik, akhirnya saya suruh adek saya untuk pesen bistik. Seperti biasa, makanan akan dibayar setelah makanan habis. Namun yang membedakan adalah kali ini alhamdulillah ditagih,  yang nagih cewe semacam pramugari. Saya mengira bahwa pengeluaran kali ini dibawah selembar uang berwana biru, 49 mungkin, atau 48. Dan ternyata...diatasnya hahaha parah. Saya sama Gatrin langsung shock dan buru-buru cari uang. Setelah dilihat notanya, ternyata yang bikin mahal adalah bistik yang saya sarankan untuk dimakan adek saya. Hahaha parah. Mungkin kejadian ini ada hubungannya dengan peristiwa nasi goreng gratis kali ya. Beda kereta, beda makanan, pasti juga beda harga. 
 Baru tau kalau kereta juga ngelewati laut.
 Keretanya berhenti.




Sudah sammpai Stasiun Tawang!

Setiap perjalanan pasti akan menimbulkan kesan tersendiri. Saya menemukan banyak hikmah dan ilmu, dimana unsur tersebut sulit bila dituangkan ke dalam kata-kata.

Melihat dari apa yang dilakukan Tante saya, tentang ngurusin balitanya, semuanya penuh kesabaran. Yaiyalah, namanya juga sama anak sendiri. Selalu sabar, saat anaknya menangis dengan suara keras dan tak henti, saat anaknya membuat rumah berantakan, saat anaknya tidak mau menurut, saat anaknya kurang ajar terhadap ibunya, saat anaknya membentak balik kepada ibunya, saat anaknya memukul ibunya apabila dia sedang kesal. Saya tau, pasti di lubuk hati paling dalam beliau kesal, penat, gerah, apapun itu beliau terlihat lelah. Dibalik itu semua naluri seorang Ibu tak mungkin sejahat itu kepada anaknya sendiri apalagi menanamkan dendam sehingga dia tidak mau mengurus anaknya lagi. Ditenangkanlah anaknya yang sedang menangis, dengan kelembutan hatinya dia dekati anak tersebut. Gila ya, gila banget deh. Orang saya sama Gatrin aja denger tangisan dan jeritan si dedek aja pusingnya mengerikan. Bunyinya “nging..nging..nging” dasyat banget. Namun, disitulah letak inner beauty seorang Ibu. AAAAAAAAA YOU’RE LOOK SO BEAUTIFUL TANTEEEE!!!

Ngurus balita susah-susah gampang. Jadi, sepupu saya ini bernama Tiara, tapi kalau disini dipanggilnya dedek. Emang lucu deh panggilannya para sunda. Dedek ini emang nggak suka dideketin sama orang asing. Baru aja mau jalan buat deketin dia, si dedek langsung lari dan hampir menangis. Oh God.....what’s wrong with meehhh. Selama bertahun-tahun dia mudik ke Semarang, dia nggak ngerti nama sepupunya sendiri. Mungkin karena jarang bertemu kali ya. 

Balita memang sedang sibuk-sibuknya berimajinasi. Semuanya penuh khayalan. Dan menurut saya, cara terampuh untuk masuk ke dunianya adalah bergabung dengan imajinasi mereka. Kayak berusaha menjadi teman seumurannya bahkan mungkin jadi orang yang lebih muda dari dia. Ternyata, hal tersebut memang menyenangkan. Si dedek jadi inget nama saya waktu ceritanya dia lagi nganterin minuman pesenan saya, ceritanya waktu itu lagi di restoran dan si dedek menjadi pelayannya. Oh God.. that’s cute.

Setelah ngelihat kejadian yang sering dilihat di minggu itu, dan pasti akan sering dilihat karena saya tinggal disana selama beberapa hari, ternyata......Ibu itu keren ya. Strong banget, lebih strong dibanding para kuli. Akhirnya ngaca pada diri sendiri. Apa dulu waktu kecil saya bandel kayak gitu ya? Berantakin rumah, nangis-nangis minta minum, nangis cariin emak, jengkel gara-gara emak saya galak, and manymore. Apalagi emak saya punya anak 5, dan nggak nyangka sekarang anaknya udah pada gede-gede. Apalagi emaknya emak saya ya, nenek saya maksudnya. Beliau punya anak 9 bro, gila banget apalagi jaraknya sekitar 3 tahunan. Ooo, apalagi sama ibu-ibu yang lain yang punya anak lebih dari 10, 25, 30. Nah itu, perjuangan menjadi seorang Ibu emang berat ya. Semuanya dilakukan dengan ikhlas dan sepenuh hati. Beliau nggak pernah pamrih dan menagih apa yang diberikan kepada anaknya. Oh Allah...give all mum in this world a big heaven, and give they Your grace and strength to face all problems in this world. Aamiin, semangat berproses menjadi lebih baik :)

You May Also Like

0 komentar

Haloooo! Terimakasih udah menyempatkan waktu untuk membaca. Jangan lupa tinggalkan komentar ya! :D