Rindu Ramadhan #1

by - 4:47:00 AM

Dulu sekitar 8 tahun yang lalu, saya menduduki kelas 4 SD. Suasana kampung masih terlihat ramai. Terutama saat malam menjelang berangkat ke masjid untuk shalat tarawih. Di kampung saya memang banyak yang hampir seumuran, saat itu. Usia antar anak tetangga yang satu dengan yang lain paling hanya terpaut satu atau dua tahun. Biasanya seusai berbuka dan shalat maghrib, saya bersama adek saya sangat bersemangat untuk menghampiri teman-teman yang lain. Ya meskipun alasannya agar buku tipis pencatat semua ibadah-ibadah yang dilakukan di bulan ramadhan terisi semua. Seusai shalat tarawih yang diakhiri dengan witir, kami langsung berburu tanda tangan penceramah serta imam pada malam itu. Ramai sekali, sehingga kami harus berdesak-desakan dan mengambil trik licik dengan menaruh buku itu diurutan paling atas agar cepat ditandatangani oleh beliau.

Biasanya di Minggu pagi, kami berjanjian untuk subuhan bersama. Ada pengalaman unik yang masih tersimpan ketika kami berniat untuk shalat namun terlambat. Saya, Mbak Rena, Gatrin, Reva, dan Hafis akhirnya pulang dan rencana shalat bersama itupun gagal. Dan entah kenapa saya agak lupa, saya malah mengusulkan untuk shalat di depan rumah agar kami tetap shalat bersama-sama. Hahaha bego banget -_- kenapa tak memiliki pikiran untuk shalat di dalam rumah? Lalu Mbak Rena bilang kalau di depan rumah itu untuk jalan, dan entah kenapa kami malah berjalan menuju lapangan yang terletak dipaling pojok. Dan finally kita shalat disana, namun tanpa Gatrin karena Gatrin takut. Saat itu memang dia masih kecil. Hafis yang saat itu adalah cowo satu-satunya diantara kami tak berani mengimami karena tak hafal doa qunut. Akhirnya, Mbak Renalah yang menjadi imam di shalat subuh saat itu karena dialah yang paling tua dan fasih bacaannya diantara kami. Lalu kami shalat. Dan entah kenapa ada tetangga kami yang usianya memang sudah tua, namun dia merupakan non-muslim mendatangi kami. Kami pun takut dan buru-buru meninggalkan lapangan tersebut. Mungkin dia pikir kami sosok asing ya, memakai rukuh dan berdiri di pojokan lapangan saat masih subuh hahaha.

Masih nggak habis pikir kenapa bisa-bisanya kami shalat dilapangan yang hanya beralaskan sajadah dan aturan imam kami itu salah. Sebenernya, sehebat-hebatnya seorang wanita, meskipun dia fasih atau hafal bacaan shalatnya, kalau ada laki-laki baligh yang tak sehebat wanita tersebut, laki-laki itu wajib untuk menjadi imam. Ya semoga Allah mengampuni kami, aamiin O : )

Seusai shalat subuh, kami jalan-jalan mengelilingi sekitar RW 20 yang memang suasananya masih dingin. Terkadang kami melakukan beberapa permainan. Seperti tokengan, petak umpet, tong rembet, dan masih banyak lagi. Tapi khusus di bulan Ramadhan, kami bermain.....mercon! hahaha ya, mercon korek. Paling suka kalau di sumet atau dinyalakan di selokan, tong sampah, dan pipa yang nantinya mercon tersebut akan mengeluarkan bunyi yang lucu.

Dulu pernah ketika Mbak Rena, Gatrin, Reva, dan saya berjalan-jalan sampai di lapangan voli dekat kali tlogosari, saya tak sengaja menginjak benda yang saat tenar disaat itu #IfYouKnowWhatIMean. Kami berempat sempat kaget, karena jumlahnya memang cukup banyak. Sebenernya yang saya temukan adalah 10 pak mercon cabe (entah apa namanya, dikampung saya mengatakan seperti itu) dan 10 pak mercon korek. Antara bahagia seneng dan takut, akhirnya mercon cabe itu diberikan kepada anak kampung sebelah dan kami hanya menikmati dengan menonton saja.  

Masih ingat ketika di pagi hari Minggu, kampung saya memang lagi tenar dengan group band saat itu. Di kampung kami memang ada yang memiliki sebuah studio band untuk bisnis. Namun kami, anak-anak yang tinggal di kampung itu di beri bonus. What a special bonus! Kami diajarkan bermain alat musik dan finally terbentuklah sebuah band kecil. Awalnya bermula dari Mbak Rena yang kursus keyboard dengan Pak Pri, pemilik studio band tersebut, hingga akhirnya dibentuklah band. Disana lagu yang pertama dan terakhir kami mainkan adalah lagunya Ungu – Demi Waktu. Dengan vokalis : Reva, Drum : Gatrin, Keyboard : Mbak Rena, dan Bassist : saya. Harapannya, group band kami bisa tampil di malam tirakatan 17 Agustus, namun gagal karena kami nggak pernah bisa main dengan bagus  hahaha menyedihkan. Anak laki-laki di kampung saya juga di bentuk band oleh Pak Pri. Yang masih saya ingat hanya nama band itu adalah Blueband (nama margarine-_-) dan personilnya Gigih di keyboard dan Mas Ivan di bassist dan lainnya entah saya lupa. Mendengar pengalaman Mas Ivan menjadi bassist terdengar cukup mengerikan karena awalnya jari kiri akan menjadi keras dan lama-kelamaan kulit jarimu mengelupas, kalau keseringan bermain ya memang cukup sakit. Tapi kalau udah kapalen katanya nanti bakal biasa aja.  Sewaktu kenaikan kelas, band kami bubar karena salah satu personil kami dan penggerak band kami ingin keluar karena dia harus fokus ujian. Akhirnya lagu Demi Waktu memang fix lagu pertama dan terakhir di group band kami.

Kini semua menjadi sepi. Banyak diantara kami yang pindah. Ya mungkin sibuk dengan dunia kami masing-masing. Dan saya yakin tiap orang pasti akan merindukan ramadhannya semasa kecil.

You May Also Like

0 komentar

Haloooo! Terimakasih udah menyempatkan waktu untuk membaca. Jangan lupa tinggalkan komentar ya! :D