Menuju pendewasaan

by - 9:28:00 PM

Entah apa yang membuat saya hari ini menjadi orang yang kritis. Atau mungkin, sok kritis. Sebenernya, saya orang yang nggak suka mengkritisi sesuatu. Takut akan dosa yang berhubungan dengan ghibah, meninggalkan segala hal berbentuk debat, sehingga lebih baik diam dan pasif. Yang lama-kelamaan kepasifan itu berubah menjadi tak peduli akan hal sekitar. Ingin rasanya mengomentari sesuatu dan saling beradu pendapat. Terbiasa untuk memendam sesuatu dan selalu diam terkadang semua ide yang terngiang melebur dan hilang. Intinya, hari ini saya mempunyai sebuah topik yang seru untuk dibahas. Sebelum semua ide ini melebur dan hilang. 

Saat ini saya sedang melihat suatu masalah kecil. Bukan hanya melihat sih, lebih tepatnya menjadi bagian dari masalah kecil itu. Hanya masalah sepele, namun tergantung orang yang terlibat itu menyikapinya.

Masalah ini mengenai pemisahan siswa di kelas saya yang di campur dengan kelas lain namun pencampurannya tak merata sehingga banyak warga kelas saya ataupun warga kelas tetangga tak terima. Oke, mungkin karena sudah satu tahun mereka bersama. Tiap kelas mempunyai ciri masing-masing. Anggap saja kelas A terbilang kelas yang alim, dan kelas B adalah anak yang gaul. Warga dari kelas B yang dipindah ke kelas A tak terima dengan kelas barunya, sehingga ia ingin pindah, begitu juga sebaliknya.

Saya pun juga merasakan hal yang sama. Yang saya pikirkan adalah apa yang akan terjadi untuk satu tahun kedepan? Apakah semangat belajar saya semakin meningkat atau sebaliknya? Apakah saya tetap menjadi anak yang takut akan suatu dosa sehingga tak akan melakukannya atau menghalalkan segala cara?

Awalnya saya pikir....yasudahlah. Mungkin dengan bertukarnya warga-warga ini, Allah mempunyai suatu rencana yang baik. Ilmu yang saya dapatkan di kelas A, mungkin saja bisa saya tularkan kepada kelas B. Atau ilmu dari kelas B juga bisa ditularkan kepada kelas A. Dan mungkin saja, kelas A dapat menyebarkan ilmunya kepada warga B. Seems like studi banding, kami saling menerima dan menularkan ilmu masing-masing.

Saya pikir rasa segan ini akan hilang dengan sendirinya. Seiring berjalannya waktu mungkin. Anggap saja ini sebuah pembelajaran atau tantangan untuk beradaptasi. Bahkan mungkin Allah sudah merencanakan sesuatu yang lebih indah. Kami bisa mempunyai banyak teman, saling bertukar pikiran dan sebagainya.

Salah satu warga dari tiap-tiap kelas masih ada yang tak terima dengan kenyataan yang seperti ini. Begitu juga teman-teman saya. Jalan satu-satunya adalah mendatangkan orangtua ke sekolah dan berhadapan dengan kepala sekolah. Oke, menurut saya ini masalah besar. Sudah banyak kasus yang saya lalui dan itu melibatkan orangtua. Rasanya seperti anak kurang ajar dan nggak tau diri. Selalu merepotkan orangtua. Menurut saya sih ini memalukan. Mendatangkan orangtua untuk melaporkan bahwa anaknya tak betah untuk tinggal di kelas baru dan ingin pindah. Sangat kekanak-kanakan.

Saya malas untuk meminta seperti itu kepada orangtua saya. Karena desakan teman saya yang ingin pindah, akhirnya saya bercerita kepada ibunda saya. Setelah itu, saya bercerita kepada ayah. Ayah saya malah bingung kalau nantinya ditanya kepala sekolah mengenai mengapa harus pindah kelas, nanti ayah akan jawab apa? Kalau saya sih memang tak begitu masalah dengan kelas baru. Akhirnya saya beranikan diri untuk sengaja tak meminta ayah datang ke sekolah.

Ya menurut saya sih itu hal yang memalukan. Udah 17 taun meeen! Udah kelas 12 pula, menghadapi masalah seperti ini saja mengapa harus melibatkan orangtua? Oke nggak masalah, kalaupun nanti ditanya teman-teman mengapa ayah saya tak bisa datang, maka saya akan menjawab, “Ayahku sibuk, soalnya lagi kerja.” Saya nggak bohong kok, memang beliau lagi sibuk untuk bekerja. Jadi, saya nggak salah kan kalau tidak mendatangkan orangtua?

Hanya saya dan kedua teman saya yang tak membawa orangtua. Dan kami pasrah. Let it flow. Ketika para orangtua keluar dari ruang kepala sekolah. Beliau menggeleng-gelengkan kepala. Itu artinya failed atau gagal. Saya tau karena hal itu memang nggak mungkin. Teman-teman yang lain meluapkan rasa kekecewaannya dengan berkeluh kesah kepada orangtua masing-masing. Sungguh mereka adalah anak yang sangat beruntung. Masih memiliki orangtua yang bersedia mendengarkan keluh kesah, menuruti permintaan anaknya hingga merelakan membolos bekerja demi membela anaknya dalam hal sepele. Namun yang sangat disayangkan, keberuntungan mereka membuat mereka tak membuka pikiran lebar-lebar. Itulah yang dibutuhkan, sebuah pendewasaan diri. I think so.

Ikut sedih ketika teman sekelas saya juga bersedih dan kecewa atas hasil yang sudah di dapat. “Rencana Allah pasti lebih indah dari yang kalian kira. Percaya deh, Allah punya sesuatu yang indah.” Dan saya cuman bilang gitu lalu mengajak mereka kembali ke kelas. Agak nggak ngefek sih, raut muka mereka masih sedih dan nggak nerima apa adanya. Yah..paling nggak, semoga bisa ngayemin hati mereka. Lalu, salah satu wakil kepala sekolah masuk dan memberi pengarahan dan menyadarkan kami semua. “Ingat tujuan awal kalian bersekolah disini. Tujuan kalian disini kan menuntut ilmu untuk menjadi anak yang sukses. Orang teman kamu jaraknya hanya dibatasi oleh tembok. Kalau kamu kangen yaudah tinggal nyebrang. Bagaimana jadinya kalau nanti kalian sudah menjadi mahasiswa? Tinggal di kos, jauh dari orangtua? Maka dari itu, kami melakukan hal seperti ini agar tak hanya mengajarkan kalian ilmu akademik, namun juga adaptasi.” Ya seperti itulah pesan beliau. Semoga teman-teman saya tertohok dan memotivasi kami untuk lebih semangat dalam menuntut ilmu.

Masih ingat ketika saya mempunyai kesempatan untuk memilih kelas di kelas XI. Saya memilih kelas, dimana tak ada satupun yang dekat dengan saya. Ya ada sih yang kenal, hanya sekedar kenal. Rasanya asing, terlebih saya merupakan salah satu panitia suatu acara yang selama 3 hari tidak berada di kelas. Canggung, kikuk, bingung duduk dengan siapa, sok join bareng dengan teman lain, sok ngikutin alur cerita, pokoknya serba sok akrab gitu. Alhasil, ya memang ada teman saya yang tak begitu suka dengan saya. Karena menurutnya, saya terlihat sedikit galak atau judes apabila terlihat dari raut wajah. Dan dia sempat berfikir bahwa dia merasa terganggu karena saya sekelas dengannya. Seiring berjalannya waktu, ternyata dugaannya itu salah. Jadi kesimpulannya, jangan asal nge-judge seseorang kalau hanya melihat dari covernya saja sebelum lihat isi atau sifatnya. Dan buktinya? Kelas yang menurut saya asing di awal bisa kompak. Endingnya menyedihkan tapi ngangenin. Intinya, kelas XI saya tetep keren.

Roda kehidupan pasti berputar. Saya tau, roda kali ini lagi berada di bawah. Percaya aja kalau roda yang akan dibawah, nantinya juga pasti akan ke atas. Semua kehendak Allah memang tak ada yang tau. And I believe that Allah have beautiful moments for us. Salam kelas 12! \m/

You May Also Like

0 komentar

Haloooo! Terimakasih udah menyempatkan waktu untuk membaca. Jangan lupa tinggalkan komentar ya! :D