Inspiration Teacher

by - 11:19:00 PM

Jumat, 17 Mei 2013
Hari ini sekitar pukul setengah delapan, guru matematika kami, Pak Adi lagi-lagi memberikan pelajaran kehidupan yang lagi-lagi berharga. Di sela-sela kesibukan kami mengerjakan latihan soal limit -amit amit- dari beliau. “Tolong dengarkan ya, anak-anak”, katanya lembut tapi tegas. Sontak kami yang sedari awal sibuk mengoceh seketika diam. Kelas senyap. Kemudian Pak Adi melanjutkan, “Kalian kan masih remaja kan ya? Pasti lagi jamannya kalian jadi orang yang selalu ge-ga-na alias gelisah-gundah-gulana. Nah, Pak Adi sering miris liat kalian -para remaja- yang sering banget menumpahkan kekesalan, kekecewaan, kegalauan, dan hal-hal lain yang menurut saya ngga perlu lah kalian umbar-umbar di sosmed entah itu lewat twitterlah, facebooklah, atau yang lainnya. Kadang Pak Adi yang pada saat itu berstatus sebagai pembaca ‘kicauanmu’ itu ngeras risih dan bawaannya mau nge-reply aja. Tapi Pak Adi ngga akan pernah mau melakukannya, karena itu kan urusan kalian masing-masing yang mengetik tweet atau status”. Tiba-tiba yang muncul di pikiranku adalah, sepertinya Pak Adi sedang menyindirku. Kuakui saja aku sering sekali bertingkah seperti itu. Oke mari fokus lagi ke Pak Adi.

“Yang saya pikir nih, apa kalian bakal ngerasa lega setelah memuntahkan kekesalan, kemarahan kalian lewat ‘kicauan-kicauan’ kalian? Nggak kan?”. Deg. Iya bener banget pak, batinku dalam hati. Aku malu, entah mengapa tiba-tiba aku merasa tersadarkan. “Menceritakan masalahmu ke teman-temanmu saja belum tentu bisa menyelesaikan masalahmu kan? Coba liat respon temen-temenmu kalau kamu habis ceritain masalahmu ke mereka. Misalnya soal cewek/cowokmu ya. Paling-paling mereka bilang, kasian deh lu! Atau, wuahaha mampus lu! Atau bahkan malah ada yang seneng karena temanmu jadi punya kesempatan untuk ngehancurin hubungan kalian” -you know lah, it mean ‘cinta segitiga’-
“Dan faktanya, ‘kicauan-kicauan’ kalian yang ada di twitter atau sejenisnya malah bisa bikin kalian masuk penjara. Semisal ada orang yang membaca kicauan kita, dan orang itu merasa ia yang sedang dijelek-jelekkan, dipergunjingkan, terus orang itu marah dan dia berniat untuk membawa masalah ‘kicauan’ itu ke pengadilan. Kamu mau ngapain setelah itu? Tidak ada pembelaan. Kamu mau minta bukti? Ya itu tadi, ‘kicauanmu’ itu yang jadi bukti nanti di pengadilan”. Deg, iya, lagi-lagi ini bener dan bikin aku takut.

“Selain itu, setelah kalian menjelek-jelekkan orang, marah pada orang lewat ‘kicauan’ kalian, itu bisa jadi dosa. Dan dosanya itu terus ngalir walaupun kamu udah meninggal. Karena apa? Ya itu tadi, ‘kicauanmu’ itu masih tersimpan di twitter, facebook, atau blog kalian. Karena ‘kicauanmu’ masih bisa diliat, dibaca orang-orang walaupun kamu sudah meninggal.” Hiih, ngedengerin Pak Adi ngomong gitu aku jadi merinding. Takut.

“Makanya, udahlah ngga perlu kalian menumpahkan emosi kalian lewat ‘kicauan’ kalian yang jelas-jelas ngga ada manfaatnya. Kalian tau kan, ada Allah yang selalu siap mendengarkan keluh-kesahmu. Nonstop! Dua puluh empat jam! Bolehlah jadi remaja yang ge-ga-na, tapi tetep tau tempat yang terbaik untuk menumpahkan segala ge-ga-na mu itu. Lewat do’a.”

-Pak Adi, guru matematika. Pengajar ilmu kehidupan-
(dengan sedikit perubahan yang tidak begitu berarti)

Terimakasih Pak Adi, beliau sudah terlalu sering berbagi kebaikan pada murid-muridnya. Terimakasih pak untuk ilmu kehidupannya :) 

sumber : http://zizatoens.wordpress.com/2013/05/19/kicauan-pembawa-dosa/

You May Also Like

0 komentar

Haloooo! Terimakasih udah menyempatkan waktu untuk membaca. Jangan lupa tinggalkan komentar ya! :D